Media Libya melaporkan pembunuhan terhadap Saif al-Islam terjadi di kediamannya dan dilakukan oleh empat orang tak dikenal. Kamera pengintai di lokasi disebut dinonaktifkan sebelum serangan terjadi.
Kantor Kejaksaan Agung Libya telah membuka penyelidikan atas pembunuhan tersebut, menurut media lokal. Hingga kini rincian peristiwa tersebut masih belum jelas, dan pihak berwenang Libya belum mengeluarkan konfirmasi resmi.
Sementara itu, mantan Juru bicara rezim Gaddafi, Moussa Ibrahim melalui halaman Facebook-nya, menulis: “Mereka membunuhnya dengan kejam ketika dia menginginkan Libya yang bersatu dan berdaulat, aman bagi seluruh rakyatnya…Mereka membunuh harapan dan masa depan, serta menanamkan kebencian dan permusuhan.”
Mengenai dugaan pembunuhan tersebut, Ibrahim mengatakan: “Tujuannya adalah lebih banyak pertumpahan darah, perpecahan Libya dan penghancuran setiap proyek persatuan nasional, demi kepentingan orang asing di negara tersebut.”
Kantor Berita Libya mengutip pernyataan “Brigade 444” yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Pemerintah Persatuan Nasional yang “dengan tegas” menyangkal keterkaitan mereka dengan bentrokan di Zintan maupun laporan mengenai pembunuhan Saif al- Islam seperti yang beredar di platform media sosial.
Sejak penangkapannya selama revolusi bersenjata yang menggulingkan rezim ayahnya pada 2011, Saif al-Islam telah tinggal di kota Zintan, yang terletak 136 kilometer barat daya ibu kota Tripoli, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui lokasinya secara terbuka bahkan setelah dia dibebaskan pada 2017.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Saif kembali muncul di kancah politik di tengah perdebatan mengenai pencalonannya dalam pemilihan presiden yang masih diharapkan dapat digelar di negara tersebut untuk mengakhiri krisis yang terjadi.
Libya masih terpecah antara dua pemerintahan yang bersaing, yakni pemerintahan di Tripoli yang dipimpin Abdul Hamid Dbeibeh yang menguasai wilayah barat, serta pemerintahan yang ditunjuk parlemen pada awal 2022 dipimpin Osama Hammad di Benghazi, yang mengendalikan wilayah timur dan sebagian besar selatan.
Sumber: Anadolu / Antara







