benuanta.co.id, TARAKAN – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 2,9 terjadi di wilayah perairan tenggara Tarakan, Kalimantan Utara, pada Kamis (15/1/2026) dini hari. Berdasarkan informasi BMKG, gempa tercatat terjadi pukul 01.09.34 WIB dengan kedalaman 4 kilometer dan berlokasi di koordinat 2,38 Lintang Utara dan 119,30 Bujur Timur, atau sekitar 218 kilometer tenggara Tarakan.
Forecaster On Duty BMKG Tarakan, M. Hatta Rachim, menjelaskan gempa tersebut termasuk gempa tektonik yang umum terjadi di wilayah Kalimantan Utara. Ia menyebutkan bahwa wilayah ini memang memiliki sejumlah sesar aktif yang berpotensi memicu aktivitas gempa.
“Gempa yang terjadi ini merupakan gempa tektonik, dan ini adalah penyebab paling umum yang sering terjadi terutama di wilayah yang terdapat sesar aktif seperti Kalimantan Utara,” ungkapnya, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, gempa tektonik terjadi akibat pergerakan lempeng-lempeng bumi yang saling bergesekan, bertabrakan, atau mengalami proses penunjaman. Proses tersebut menyebabkan akumulasi energi di dalam kerak bumi yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba.
“Energi yang menumpuk itu dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik yang kemudian mengguncang bumi,” jelasnya.
BMKG memastikan gempa yang terpantau saat ini masih tergolong kecil karena berada di bawah magnitudo 5. Kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan. “Untuk saat ini, gempa yang terpantau skalanya masih di bawah 5 magnitudo,” katanya.
Terkait kemungkinan gempa susulan, BMKG menyatakan aftershocks dapat saja terjadi, namun biasanya memiliki kekuatan yang lebih kecil dibandingkan gempa utama. Hal ini merupakan karakteristik umum dari gempa tektonik. “Peluang terjadinya gempa susulan memang ada, tetapi hampir selalu magnitudonya lebih kecil dari gempa utama,” ujarnya.
Hatta juga memaparkan perbedaan dampak gempa berdasarkan kekuatan magnitudonya. Ia menjelaskan bahwa gempa bermagnitudo kecil umumnya tidak dirasakan oleh manusia. “Gempa dengan kekuatan 2,5 magnitudo atau kurang biasanya tidak terasa, namun tetap dapat direkam oleh alat seismograf,” imbuhnya.
Sementara itu, gempa dengan kekuatan menengah masih memungkinkan dirasakan getarannya oleh masyarakat, meskipun dampaknya relatif ringan. “Untuk gempa dengan kekuatan 2,5 hingga 5,4 magnitudo, getarannya sering terasa tetapi biasanya hanya menimbulkan kerusakan ringan,” lanjutnya.
BMKG menyampaikan imbauan masyarakat agar tidak panik menyikapi kejadian gempa tersebut, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Pemahaman terhadap langkah-langkah mitigasi bencana dinilai sangat penting untuk meminimalkan risiko. “Kami menghimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun selalu waspada dan memahami mitigasi bencana jika gempa terjadi,” tegasnya.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mengakses informasi dari sumber resmi agar tidak terpengaruh kabar bohong. Informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dikhawatirkan dapat menimbulkan kepanikan. “Selalu pantau informasi resmi dari BMKG untuk menghindari informasi palsu atau hoaks,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







