Prediksi Hujan hingga Februari Tak Meleset, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Tarakan Mendadak Panas

benuanta.co.id, TARAKAN – Cuaca panas dan relatif kering yang terjadi di Kota Tarakan dalam beberapa hari terakhir dipastikan bukan berarti musim hujan berakhir lebih cepat. Kondisi tersebut justru merupakan bagian dari pola alami dalam siklus monsun yang masih berlangsung di Kalimantan Utara (Kaltara).

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan sejak awal pihaknya memprediksi wilayah Kaltara masih berada dalam fase hujan hingga Februari. Namun, di tengah periode itu memang terdapat fase jeda atau yang dikenal sebagai monsoon break.

Baca Juga :  Jumlah Polhut Minim Potensi Pelanggaran di Hutan Lindung Tinggi, Harapkan Peran Lintas Sektor

Menurutnya, pada fase tersebut hujan memang bisa berkurang dan cuaca tampak lebih cerah, meskipun secara umum sistem hujan belum benar-benar berakhir. “Dalam fase monsun itu memang ada jeda, seperti orang istirahat sejenak untuk menyusun energi lagi,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Selain faktor monsoon break, dirinya juga menyebut adanya pengaruh fenomena siklon tropis di wilayah timur Indonesia yang turut memengaruhi pola awan di Kaltara. Siklon yang berada di utara Papua itu sempat menarik massa awan dari wilayah Kaltara.

Baca Juga :  Pastikan Pengemudi Layak Berkendara, Satlantas Gelar Ramcek di Pelabuhan dan Bandara Tarakan

Akibatnya, dalam beberapa hari terakhir intensitas hujan di Tarakan dan sekitarnya sempat menurun. Meski demikian, hujan tetap terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama pada dini hari.

Ia menegaskan, kondisi panas yang dirasakan masyarakat tidak menandakan musim kemarau lebih cepat datang. Justru fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika atmosfer sebelum hujan kembali menguat.

Baca Juga :  Simbol Doa dan Harapan Keluarga, Lilin Raksasa Mulai Hiasi Kelenteng Tarakan Jelang Imlek

“Walaupun siang terasa panas, kita masih lihat hujan terjadi pada subuh atau dini hari. Itu tanda sistem hujan masih aktif,” ungkapnya.

BMKG menilai fluktuasi cuaca seperti ini masih sangat wajar terjadi di tengah puncak musim hujan. Masyarakat pun diimbau tidak terkecoh oleh cuaca cerah sementara.

“Ini bukan penyimpangan prediksi. Ini memang karakteristik cuaca saat monsun masih bekerja,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *