November 2025 Bencana Paling Banyak Terjadi di Tarakan, Gempa 133 Kali

benuanta.co.id, TARAKAN – Sepanjang tahun 2025, Kota Tarakan menghadapi lonjakan kejadian bencana yang dipicu cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem seperti angin kencang menyebabkan pohon tumbang. Ratusan warga terdampak di berbagai wilayah rawan di Tarakan.

Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat 329 kejadian bencana, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada November sebanyak 154 kejadian dan Oktober 52 kejadian. Data ini memperlihatkan tekanan besar cuaca ekstrem di akhir tahun.

Jenis bencana yang paling dominan adalah cuaca ekstrem sebanyak 114 kejadian, disusul tanah longsor 64 kejadian dan kebakaran hutan dan lahan 15 kejadian. Selain itu, Tarakan juga diguncang 133 kali gempa bumi yang seluruhnya terjadi pada November.

Baca Juga :  Respons Keluhan Penumpang, BI Pastikan QRIS di Pelabuhan Tengkayu I Tanpa Biaya Tambahan

Sekretaris BPBD Tarakan, Totok Murhanto mengatakan dominasi longsor dan pohon tumbang erat kaitannya dengan kondisi cuaca ekstrem yang berlangsung hampir sepanjang tahun. “Kalau hujan dan angin kencang, biasanya tanah longsor dan pohon tumbang langsung terjadi. Itu yang paling banyak kami tangani,” ujarnya.

Dampak dari rangkaian bencana itu cukup besar. BPBD mencatat 732 jiwa terdampak dan 25 orang terpaksa mengungsi sepanjang 2025. Dari angka tersebut, longsor menyumbang 208 jiwa terdampak dan cuaca ekstrem 142 jiwa terdampak, sementara gempa bumi berdampak pada 378 jiwa.

Baca Juga :  Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kos, Jenazah Korban Dipulangkan ke Malinau

Ia menjelaskan wilayah yang paling sering mengalami longsor masih berada di titik yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Rata-rata di Kampung Bugis, Gunung Lingkas, Juwata Permai termasuk Karang Harapan dan Mamburungan. Tidak ada penambahan titik baru,” jelasnya.

Kejadian banjir, BPBD mencatat hanya tiga kejadian sepanjang 2025. Menurutnya, kondisi tersebut lebih banyak berupa genangan akibat air pasang yang menahan aliran air hujan. “Bukan banjir besar, tapi air hujan tertahan karena pasang,” katanya.

Baca Juga :  Bertahap, DPUPR Mulai Rancang Pembangunan Pusat Pemerintahan di Wilayah Utara Tarakan

BPBD sendiri telah melakukan berbagai langkah mitigasi seperti sosialisasi kebencanaan dan pemasangan rambu peringatan di wilayah rawan longsor. Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko jatuhnya korban saat cuaca ekstrem kembali terjadi.

Totok menegaskan kondisi cuaca 2025 memang sangat ekstrem dan menjadi penyebab utama tingginya angka kebencanaan. “Bukan cuma di Tarakan, di daerah lain juga sama. Tahun ini memang cuacanya ekstrem sekali,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *