benuanta.co.id, TARAKAN – Kondisi Pasar Tenguyun, Kota Tarakan, kian memprihatinkan sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Sepinya pembeli membuat sejumlah lapak memilih tutup karena tidak mampu menutupi biaya operasional harian.
Berdasarkan pantauan benuanta.co.id, pada pagi hari yang biasanya pasar dipenuhi oleh pengunjung yang berbelanja kebutuhan sehari-hari kini menjadi sepi meskipun ketersediaan bahan pokok yang di perjual-belikan masih banyak.
Seorang pedagang sayur Pasar Tenguyun Tarakan, Anti menuturkan, situasi pasar sudah tidak seperti biasanya. Bahkan pada momentum Natal dan Tahun Baru yang biasanya ramai, aktivitas jual beli justru lesu. Kondisi ini membuat banyak pedagang memilih menghentikan sementara aktivitas berdagang.
Ia mengungkapkan, kenaikan harga bahan pokok sejak menjelang Natal hingga kini belum juga turun, sehingga pembeli semakin menahan belanja.
“Memang tahun 2025 sampai awal tahun 2026 ini pasar sepi pembeli mungkin karena ekonomi. Bahan pokok ini aja naik sebelum Natal, Tahun Baru sampai sekarang nggak turun,” ujarnya dengan nada lesu.
Dirinya mengatakan, kondisi pasar yang sepi membuat banyak pedagang tidak mampu bertahan. Beberapa lapak di Pasar Tenguyun kini terlihat kosong karena pemiliknya memilih tutup.
“Biasa kalau hari raya kan rame, ini nggak. Lihat aja banyak pedagang tutup karena nggak ada pembeli. Rugi, jualan nggak ada yang beli,” lanjutnya.
Padahal, ketersediaan barang di pasar masih mencukupi bahkan memiliki stok melimpah. Namun rendahnya minat belanja masyarakat membuat stok menumpuk di lapak pedagang. Situasi ini menekan perputaran modal pedagang kecil.
“Sebenarnya kami nih susah juga, harganya tetap begitu dari kemarin tapi pembeli juga mengeluh. Stok ada tapi yang beli nggak ada,” terangnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Arya. Ia menilai, jumlah pembeli hingga kini masih sama seperti hari-hari sebelumnya, tanpa ada peningkatan yang berarti.
Menurutnya, tekanan ekonomi masyarakat menjadi salah satu penyebab utama pasar tak kunjung ramai. Selain itu, pengeluaran besar di awal tahun juga turut membatasi belanja warga.
“Sama saja, tidak ada perubahan. Memang situasinya ekonominya, apalagi banyak bencana-bencana, ditambah anak sekolah baru masuk lagi,” ucapnya.
Para pedagang berharap ada perbaikan kondisi ekonomi agar aktivitas pasar kembali bergairah dan pedagang yang masih bertahan tidak ikut terpaksa gulung tikar. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







