benuanta.co.id, TARAKAN – Peredaran narkotika di Kalimantan Utara (Kaltara) kian sulit dideteksi seiring terus berubahnya modus yang digunakan jaringan pengedar. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat, setiap kali satu pola terbongkar, pelaku langsung beralih menggunakan cara baru untuk mengelabui aparat.
Plt Kepala BNNP Kaltara, Dr. Agus Surya Dewi, menyebut peredaran sabu di wilayah ini tidak lagi menggunakan satu pola tetap. Narkotika kini disamarkan dalam berbagai bentuk, mulai dari dimasukkan ke dalam kemasan makanan, disembunyikan dalam barang tertentu seperti ikan dan sebagainya, hingga dikemas sedemikian rupa agar tidak mudah terdeteksi saat pemeriksaan.
“Setiap kita melakukan penangkapan dengan satu pola, mereka akan mengembangkan pola yang lain. Ini terus terjadi,” ujarnya, Rabu (31/12/2025) lalu.
Perubahan modus ini sejalan dengan masih aktifnya jalur-jalur lama sebagai pintu masuk narkoba ke Kaltara. Jalur sungai dan pesisir pantai tetap menjadi rute utama, khususnya di kawasan Selumit Pantai, Timbunan dan wilayah Juata yang selama ini dikenal rawan peredaran.
Selain menjadi daerah tujuan, Kaltara juga kerap dimanfaatkan sebagai wilayah transit sebelum narkoba dikirim ke daerah lain yang didominasi oleh wilayah Sulawesi, termasuk ke Pulau Jawa. Pola pemutusan jejak ini dilakukan dengan cara menaruh barang di satu titik tertentu, lalu diambil kembali oleh jaringan lain agar mata rantai tidak mudah ditelusuri.
Di wilayah perbatasan, jalur darat dan laut juga masih dimanfaatkan sebagai pintu masuk. Luasnya wilayah serta banyaknya akses keluar-masuk membuat jaringan peredaran dapat berpindah rute ketika satu jalur mulai terdeteksi aparat.
Dari sisi capaian, jumlah barang bukti sabu yang disita pada 2025 memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, BNNP Kaltara mencatat penyitaan sekitar 7.834 gram sabu, sementara pada 2025 angkanya menurun. Namun, konektivitas jaringan justru semakin terlihat karena pola distribusi yang lebih rapi dan tersembunyi.
Menurutnya, penurunan barang bukti bukan berarti peredaran berkurang, melainkan menunjukkan bahwa jaringan semakin piawai menyamarkan aktivitasnya melalui berbagai modus baru.
“Upaya pengungkapan jaringan besar pun tidak mudah. Banyak tersangka tingkat bawah memilih bungkam karena takut terhadap ancaman terhadap diri dan keluarganya. Hal ini membuat jalur pengembangan ke bandar besar sering terputus di tengah proses penyidikan karena kurangnya saksi dan alat bukti,” terangnya.
Kendati demikian, BNNP Kaltara tetap memperkuat strategi dengan menggandeng Bea Cukai dan instansi perbatasan. Kolaborasi ini dilakukan untuk mempersempit ruang gerak jaringan yang memanfaatkan jalur laut, sungai, dan perbatasan sebagai rute distribusi narkoba.
Pihaknya menegaskan, pengawasan akan terus difokuskan pada jalur-jalur rawan tersebut dengan menyesuaikan strategi terhadap perubahan modus yang semakin dinamis. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







