Sepanjang 2025, Diabetes di Tarakan Capai 5.510 Kasus

benuanta.co.id, TARAKAN – Hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada Jumat, 14 November 2025 kembali mengingatkan pentingnya penerapan pola hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak menular, termasuk diabetes, yang masih menjadi tantangan kesehatan di Kota Tarakan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tarakan, Rinny Faulina, S.K.M., M.Kes., mengungkapkan jumlah pelayanan penderita diabetes di Tarakan masih cukup tinggi dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2024, tercatat sebanyak 5.513 pelayanan terhadap pasien diabetes.

“Data tahun lalu itu mencapai 5.513 pelayanan, angkanya memang cukup tinggi,” ungkapnya, Rabu (19/11/2025).

Rinny menambahkan, pada tahun 2025 hingga saat ini, jumlah pelayanan telah mencapai 5.510 kasus. Ia menjelaskan angka tersebut kemungkinan besar masih akan bertambah mengingat tahun berjalan masih menyisakan satu bulan.

Baca Juga :  BPJS PBI Sebagian Masyarakat Dinonaktifkan, Ini Alasannya

“Tahun ini sudah 5.510 dan masih tersisa satu bulan, jadi kemungkinan jumlahnya bertambah,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr Devi Ika Indriarti, M.Kes., menjelaskan perubahan pola hidup masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya kasus diabetes. Ia menyebut kebiasaan kurang olahraga dan begadang sambil bermain ponsel sebagai pemicu gaya hidup tidak sehat.

“Perubahan pola hidup inilah yang menjadi faktor utama meningkatnya risiko diabetes,” katanya.

Untuk menekan angka kasus, Dinkes Tarakan terus menggaungkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai strategi utama mengubah kebiasaan masyarakat. Dr Devi menegaskan Germas bukan hanya seruan, tetapi harus menjadi budaya sehari-hari.

“Germas itu adalah sebuah gerakan bagaimana kita menjaga pola hidup yang sehat,” jelasnya.

Baca Juga :  Jelang Imlek dan Ramadan, Harga Bahan Pokok di Pasar Gusher Stabil

Ia menambahkan salah satu poin penting dalam Germas adalah pola tidur yang cukup, yakni 7 hingga 8 jam setiap hari. Kurang tidur disebut dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.

“Istirahat yang cukup itu sangat penting. Minimal tidur 7 sampai 8 jam agar tubuh bisa melakukan regenerasi dengan baik,” tegasnya.

Selain tidur cukup, Germas juga menekankan perlunya aktivitas fisik. Masyarakat dianjurkan untuk berolahraga atau melakukan gerakan tubuh minimal 30 menit per hari atau total 150 menit per minggu. “Kalau bisa lebih dari 150 menit, itu lebih bagus lagi,” ujarnya.

Kebiasaan masyarakat yang lebih sering duduk atau berbaring sambil bermain ponsel turut disayangkan dr Devi karena berkontribusi pada kurangnya aktivitas fisik. Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan gizi dalam mencegah diabetes.

Baca Juga :  Kemenag Tarakan Tetapkan Zakat Fitrah Ramadan 1447 H, Ini Besarannya

“Jangan karbohidratnya yang banyak, tapi harus dengan menu yang seimbang. Idealnya 1/3 makanan itu karbohidrat, 1/3 sayur, dan sisanya protein,” terangnya.

Menurut dr Devi, pola makan yang tidak sehat menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus diabetes di Tarakan. Ia menegaskan bahwa menjaga komposisi makanan dan menghindari konsumsi berlebihan sangat penting untuk menekan risiko penyakit.

“Pola makan yang tidak sehat sangat berpengaruh terhadap meningkatnya angka diabetes,” imbuhnya.

Dinas Kesehatan Tarakan terus menyosialisasikan Germas ke seluruh lapisan masyarakat. Dinas juga menggandeng sekolah, tempat kerja, dan komunitas agar pesan hidup sehat dapat diterapkan secara luas.

“Penyakit ini bisa dicegah. Makanya Germas harus jadi kebiasaan, bukan hanya seremonial,” tandasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *