Unit Pengelola Darah RSUD dr. H Jusuf SK Siaga Jaga Stok dan Edukasi Manfaat Donor

benuanta.co.id, TARAKAN — Unit Pengelola Darah RSUD dr. H Jusuf SK terus menunjukkan komitmennya dalam memastikan ketersediaan darah bagi kebutuhan pasien. Melalui kerja sama lintas instansi dan partisipasi masyarakat, unit ini menjadi garda terdepan dalam menjaga pasokan darah di rumah sakit.

Kepala Ruangan Unit Pengelola Darah RSUD dr. H Jusuf SK, Ibnu, mengungkapkan pelayanan darah di rumah sakit ini tidak hanya mengandalkan pendonor dari internal, tetapi juga dari masyarakat umum. Unit pengelola darah aktif menjalin kerja sama dengan berbagai instansi dan komunitas untuk mengadakan kegiatan donor darah sukarela.

“Kami mengadakan acara-acara mobil unit atau kegiatan sukarelawan, dan juga aktif berpartisipasi dalam acara kemanusiaan yang berkaitan dengan donor darah,” ungkapnya, Senin (3/11/2025).

Selain kegiatan lapangan, strategi rutin juga dilakukan dengan mengirimkan surat ke berbagai instansi setiap bulan untuk menawarkan kerja sama. Langkah ini dinilai efektif karena banyak instansi merespons positif dan bersedia menjadi tuan rumah kegiatan donor darah.

“Biasanya kalau mereka setuju, kami langsung atur tanggal dan teknis pelaksanaannya,” ujarnya.

Beberapa instansi disebut cukup aktif dalam mendukung kegiatan donor darah tersebut, termasuk lembaga keagamaan dan institusi pemerintah. Kegiatan rutin biasanya digelar setiap tiga bulan sekali untuk menjaga kontinuitas stok darah.

“Instansi seperti gereja, rumah sakit, BPKP, dan BPK RI Wilayah Kaltara itu termasuk yang aktif,” katanya.

Tak hanya dari instansi, rumah sakit juga memanfaatkan jaringan pendonor tetap yang sudah tercatat dalam database. Para pendonor ini secara berkala diingatkan agar tetap berpartisipasi setiap dua bulan sekali sesuai masa donor yang diperbolehkan.

“Kami biasanya menghubungi mereka dan menanyakan apakah bisa datang untuk mendonorkan darah,” paparnya.

Database pendonor ini diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari kegiatan promosi, informasi dari mulut ke mulut, hingga keluarga pasien yang secara sukarela datang membantu. Saat ada kebutuhan darah mendesak, pengumuman juga dilakukan di area rumah sakit untuk mengajak masyarakat berdonor sesuai golongan darah yang dibutuhkan.

“Kalau ada keluarga pasien yang ingin donor, tentu kami sambut baik,” tuturnya.

Mengenai stok darah, Ibnu menegaskan rumah sakit tidak menetapkan target jumlah kantong tertentu. Prinsip yang dijalankan adalah menerima sebanyak mungkin karena seluruh darah yang terkumpul pasti akan terpakai untuk kebutuhan medis.

“Kami tidak pernah menargetkan jumlah, tapi semakin banyak yang donor tentu semakin baik,” bebernya.

Golongan darah O menjadi yang paling sering dibutuhkan karena mayoritas pasien memilikinya. Sejauh ini, stok darah di rumah sakit dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.

“Pasien hemodialisis memang paling sering menggunakan darah dari bank darah kami,” terangnya.

Selain fokus pada ketersediaan, unit ini juga aktif mengedukasi masyarakat tentang manfaat donor darah bagi kesehatan. Menurut Ibnu, donor darah dapat menstimulasi pembentukan sel darah merah baru, melancarkan sirkulasi darah, menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, serta menjaga kadar zat besi tetap seimbang.

“Banyak pendonor yang mengaku merasa tubuhnya lebih ringan dan segar setelah donor,” ujarnya.

Ia menambahkan, donor darah juga memiliki manfaat psikologis, karena menumbuhkan rasa empati dan kebahagiaan setelah membantu sesama. “Donor darah itu bukan hanya tentang memberi darah, tapi juga berbagi kehidupan,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan tidak semua orang bisa menjadi pendonor. Kriteria yang harus dipenuhi antara lain usia 17–60 tahun, berat badan minimal 45 kilogram, sehat jasmani dan rohani, tidak sedang sakit atau mengonsumsi obat tertentu, serta cukup istirahat dan sarapan sebelum donor.

“Semua ketentuan itu sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan dan wajib dipatuhi,” imbuhnya.

Ibnu juga menegaskan pendonor dengan penyakit kronis seperti diabetes yang menggunakan insulin atau kolesterol tinggi yang sudah harus minum obat rutin tidak disarankan untuk donor.

“Kalau sudah sampai terapi rutin, sebaiknya jangan donor dulu demi keamanan,” katanya.

Sebagai penutup, Ibnu mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan peduli sesama. Ia berharap semakin banyak orang yang sadar akan manfaatnya, bukan hanya bagi penerima, tetapi juga bagi kesehatan pendonor itu sendiri.

“Ayo jangan takut donor darah, karena setetes darah anda bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” tandasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *