Dinilai Berdaya Saing Global, Pertanian Jadi Pilar Kedua Ekonomi di Kaltara

benuanta.co.id, TARAKAN – Pertanian semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu penopang utama perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara). Meski sektor pertambangan masih mendominasi, kontribusi pertanian, kehutanan, dan perikanan kian meningkat dari tahun ke tahun, menjadikannya fondasi penting dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Borneo Tarakan, Agus Tri Darmawanto, S.E., M.E., mengungkapkan berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 14,78 persen terhadap perekonomian daerah, menempati posisi kedua setelah pertambangan dan penggalian.

“Angka itu meningkat dibandingkan tahun 2023 yang hanya 14,23 persen, menunjukkan pertanian semakin berperan dalam pembangunan ekonomi daerah,” ungkapnya, Sabtu (4/10/2025).

Meski sektor pertambangan masih mendominasi, pertanian tetap menjadi fondasi ekonomi yang berkelanjutan. Ia menekankan, perlunya perhatian serius pemerintah daerah agar pertanian tidak sekadar menjadi penopang, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi.

“Sektor pertanian harus diarahkan bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional,” ujarnya.

Sejumlah komoditas pertanian kini menonjol sebagai potensi unggulan Kaltara. Menurut Agus, kelapa sawit masih menjadi primadona ekspor melalui produk Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. Selain itu, kopi Malinau, kakao, serta lada juga memiliki daya saing yang kuat.

Baca Juga :  Realisasi Pajak Daerah Kaltara Baru 5 Persen

“Kopi Malinau mulai dikenal di pasar global karena cita rasanya yang khas, sementara kakao dan lada berpeluang besar dikembangkan sebagai produk premium bernilai tambah tinggi,” katanya.

Meski begitu, pengembangan sektor pertanian Kaltara masih menghadapi kendala serius. Agus mengungkapkan masalah produktivitas yang rendah serta lemahnya pengolahan pascapanen sebagai hambatan utama.

“Sebagian besar komoditas unggulan masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya sangat minim,” tegasnya.

Kondisi itu diperparah dengan keterbatasan modal, teknologi, serta penggunaan bibit unggul. Selain persoalan produksi, infrastruktur juga menjadi tantangan besar. Agus menilai jaringan irigasi, jalan pertanian, gudang, hingga akses transportasi masih belum memadai untuk mendukung distribusi hasil panen.

“Akibatnya, distribusi hasil pertanian menjadi tidak efisien dan biaya logistik pun tinggi,” terangnya.

Bahkan, perubahan iklim yang semakin tidak menentu turut menekan stabilitas produksi pangan di wilayah perbatasan tersebut. Untuk mengatasi persoalan itu, Agus menekankan perlunya strategi komprehensif. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur pertanian dan logistik yang kuat.

Baca Juga :  Perselingkuhan dan Judol Masih jadi Biang Kerok Perceraian Masyarakat Kaltara

“Perbaikan jalan, jaringan irigasi, gudang, hingga cold storage akan sangat menentukan daya saing pertanian kita, terutama yang berorientasi ekspor,” imbuhnya.

Menurutnya, infrastruktur yang baik akan memperlancar rantai pasok serta menekan biaya produksi. Selain itu, peningkatan produktivitas dan teknologi menjadi kunci utama.

Agus menekankan pentingnya penggunaan bibit unggul, pupuk ramah lingkungan, hingga mekanisasi pertanian modern. “Kita perlu memberdayakan petani melalui pelatihan, penyuluhan, dan transfer teknologi tepat guna agar mampu mengelola usaha tani lebih profesional,” bebernya.

Riset dan inovasi juga disebutnya berperan besar dalam menyesuaikan produk pertanian dengan kebutuhan pasar global. Pengembangan hilirisasi disebut Agus sebagai langkah penting berikutnya.

Industri pengolahan hasil pertanian harus terus didorong agar produk Kaltara tidak lagi hanya berupa bahan mentah. Ia menambahkan, branding produk juga harus diperkuat agar lebih dikenal di pasar internasional.

“Kopi bubuk, cokelat premium, hingga minyak sawit olahan akan memberi nilai ekonomi jauh lebih tinggi,” lanjutnya.

Akses permodalan dan pasar pun tak kalah penting. Agus menilai Kredit Usaha Rakyat (KUR), koperasi, maupun kemitraan dengan swasta perlu diperluas agar petani punya modal yang cukup. “Selain itu, sertifikasi produk seperti organik atau fair trade akan membantu produk Kaltara menembus pasar global,” ujarnya.

Baca Juga :  Jalan Akses Kawasan Industri Tanah Kuning–Mangkupadi Belum Dapat Dilanjutkan

Digitalisasi pertanian juga dipandangnya sebagai sarana untuk memperluas pemasaran. Lebih jauh, Agus menegaskan perlunya kebijakan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Isu deforestasi pada sawit, misalnya, harus dijawab dengan tata kelola yang lebih baik. Hal ini penting agar produk pertanian Kaltara mendapat citra positif di mata dunia.

“Penerapan green agriculture dan kearifan lokal sangat relevan untuk menciptakan sistem pertanian yang adaptif dan berkelanjutan,” tuturnya.

Di akhir, Agus menyampaikan harapannya agar pertanian Kaltara bisa menjadi pilar utama dalam transformasi ekonomi daerah. Menurutnya, dengan optimalisasi lahan, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan pemerintah, sektor pertanian mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

“Saya yakin pertanian dapat menjadi basis ekonomi lokal yang tangguh sekaligus fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kaltara,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra 

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *