benuanta.co.id, TANJUNG SELOR -Manfaatkan kekayaan alam untuk menjadi pundi-pundi keuntungan, sejumlah komunitas masyarakat pedalaman yang ada di Desa Laban Nyarit, Kabupaten Malinau sukses ciptakan minyak atsiri atau minyak aroma terapi.
Berbeda dengan minyak aroma terapi yang lainnya yang berbahan baku tanaman herbal kayu putih. Minyak aroma terapi masyarakat Laban Nyarit ini justru terbuat dari bahan baku pohon gaharu yang tentunya akan memperkuat aroma minyak terapinya.
Menariknya, minyak terapi yang terbuat dari sirin gaharu ini ternyata sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dan sukses membuat ekonomi warga Desa Laban Nyarit berubah.
Tenaga Ahli UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri Dinas Kehutanan Kaltara, Ilham Yudha mengatakan pada awalnya minyak atsiri ini memang hanya mengandalkan bahan baku dari sirin gaharu saja. Tapi semakin berkembangnnya pemesanan, kini minyak atsiri ini pun berhasil berkembang dengan menggunakan berbagai macam bahan baku herbal lainnya. Seperti serai, merica hutan, gaharu atau kayu putih.
“Tumbuhan yang memiliki aroma dapat diekstrak menjadi minyak atsiri. Hasilnya memiliki aroma yang tahan sehingga cocok dijadikan diffuser atau pengharum ruangan dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh warga Desa,” ujar Ilham.
“Bahkan saat ini satu gram minyak atsiri ini dijual seharga Rp 150 ribu dan harga itu tergolong sangat murah mengingat bahan baku yang digunakan adalah gaharu,” tambahnya.
Sementara itu fasilitator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Sainal mengatakan sebagai Komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat desa adanya hilirisasi minyak atsiri harus dimulai dari pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan, terutama di Malinau yang sebagian besar wilayahnya adalah kawasan hutan.
“Hilirisasi minyak atsiri ini awalnya dimulai melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Malinau hingga akhirnya berkembang dan sukses menajdi mata pencaharian masyarakat Desa,” ujar Sainal.
Ia menyebutkan minyak atsiri ini diolah dari bahan baku, di antaranya kayu gaharu yang tidak mengandung resin atau disebut totok gaharu. Di mana semuanya bisa terlaksana adanya fasilitas penyulingan gaharu, bantuan Dinas Kehutanan Kaltara kepada KUPS.
“Jadi kendala awalnya memang keahlian dan fasilitas alat yang memadai. Tapi berkat adanya bantuan dari Pemprov Kaltara, masyarakat pun akhirnya bisa memanfaatkan hasil kekayaan alam menjadi sesuatu yang berekonomi tinggi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Osarade
Editor: Yogi Wibawa







