benuanta.co.id, TARAKAN – Warga RT 14 Kelurahan Lingkas Ujung mengeluhkan keadaan transfer depo sampah sementara karena banyaknya sampah berserakan.
Penumpukan sampah tersebut membuat warga tidak nyaman akibat ditumpuk berhari-hari hingga menimbulkan bau tak sedap.
Salah satu warga RT 14 Kelurahan Lingkas Ujung Kota Tarakan, Abdul Hafid mengungkapkan, sudah sebulan belakangan ini transfer depo sementara tersebut tidak dibersihkan sehingga bau sampah yang menumpuk tercium sampai di rumah warga.
“Sampahnya bertumpuk berhari-hari sampahnya nggak dibersihkan, biasanya dicuci, sekarang ini kemungkinan satu bulan ndak dicuci, jadi baunya itu terkeluar,” ujar Abdul Hafid, Rabu (24/1/2024).
Ia pun sempat bertanya kepada petugas dari DLH yang melakukan pengangkutan sampah terkait pekerja yang mengangkut sampah yang hanya mengambil sampah hanya dua kali saja sehari dan masih menyisakan sampah di depo sementara.
“Kepala dinas saya tanya langsung saya minta kebijakan bapak tolong dipagar agar tidak terhambur di jalan,” tegasnya.
Namun hal tersebut ditanggapi oleh pihak DLH dengan meminta minta tolong di warga untuk patungan mengumpulkan dana membeli seng dan kayu untuk membuat pagar.
“Sampah ini di bagian tengah saja diambil, itu pun di bagian atas tempat TPA tidak habis. Samping kiri kanan tidak habis. Di tengah-tengah saja diambil. Baunya sampai di belakang mengganggu masyarakat di sini,” tuturnya.
Terpisah, Kepala DLH Tarakan melalui Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Tarakan, Nuriansyah menjelaskan jika seksi pengangkutan DLH Tarakan telah mengikuti aturan yang berlaku.
“Dalam artian kami mengikuti jadwal yang ditetapkan. Kami mengangkut sehari dua kali untuk di depo Lingkas Ujung,” ujar Nuriansyah.
Ia pun menjelaskan permasalahan yang terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor. Pertama, tidak teraturnya jadwal pembuangan dari masyarakat dan petugas sampah semesta. Kedua terkait penumpukan sampah dikarenakan tidak ada pengaman yaitu pemagaran atau penutupan sehingga sampah tercecer.
“Warga yang tidak mengikuti jadwal sampah semesta dan jadwal pembuangan, sesuka hatinya mereka membuat sampah,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan pihaknya juga sudah cukup berusaha semaksimal mungkin dan sudah berulang kali mengatasi permasalahan depo Lingkas Ujung.
“Kalau tidak dibantu atau diback-up dengan masyarakat setempat atau warga sekitar situ. Artinya itu dianggap kerja mati, kerjanya itu-itu saja,” jelasnya.
“Jadi permasalahannya pertama tidak sejalannya antara petugas pengangkutan sampah alam semesta dan pengangkutan dari depo ke TPA sesuai jadwal. Kedua ruangnya ruang terbuka,” pungkasnya.(*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







