Pengaruhi Harga, APRL Nunukan Harap Petani Tingkatkan Kualitas Rumput Laut

benuanta.co.id, NUNUKAN – Budidaya rumput laut yang selama ini menjadi komoditi andalan Kabupaten Nunukan kini mulai dikhawatirkan. Bukan tanpa sebab, para petani mulai mengeluh lantaran harganya kini alami penurunan.

Turunnya harga rumput laut dikarenakan kualitas yang dihasilkan oleh para petani kian menurun. Kadar air rumput laut tersebut belum sesuai dengan standar kadar yang diburu oleh para buyer atau pembeli.

Padahal, Ketua Asosiasi Pedagang Rumput Laut (APRL) Kabupaten Nunukan, Feri mengatakan sejatinya para pedagang bisa menaikkan harga beli kepada petani apabila para petani juga bisa meningkatkan kualitas produksi rumput lautnya.

“Sebenarnya, kalau kualitasnya sesuai dengan kadar kekeringan 37 hingga 38 itu bisa kita beri harga Rp 13 ribu, tapi saat ini kan kadar nya itu 43-46, otomatis harganya hanya dibawah Rp 10 ribu,” kata Feri kepada benuanta.co.id, Selasa (19/9/2023).

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Perkuat Sinergi Perlindungan Pekerja Sektor Jasa Konstruksi melalui FGD

Sebagai pedagang, Feri mengatakan jika APRL telah menyampaikan solusi kepada para petani agar jika ingin mendapatkan harga yang tinggi untuk bisa meningkatkan kualitas rumput lautnya.

Bahkan, para pedagang bisa saja membeli dengan harga yang sesuai apabila kadar rumput laut yang dijual oleh para petani memiliki kadar kekeringan air yang sesuai dengan keinginan para buyer.

“Sebenarnya ini kan hukum ekonomi, ada kualitas ada harga. Jadi jangan sampai ada yang mengatakan jika ini permainan para pedagang yang memainkan harga, sebab permintaan baik dari Surabaya maupun Makassar itu mintanya kualitas yang baik juga,” ungkapnya.

Feri menyampaikan, meski saat ini harga rumput laut mengalami penurunan, namun ia menegaskan jika hal tersebut tidak berpengaruh dengan produksi rumput laut di Kabupaten Nunukan.

Baca Juga :  IOH dan Nokia Edukasi Mahasiswa Kaltara tentang Literasi Digital dan AI

Sebab, meski harga turun, petani masih saja produksi. Menurutnya, hal itu dapat dilihat adanya pembatasan pengiriman yang dilakukan pada saat pengiriman rumput laut ke luar daerah dengan menggunakan kapal laut.

Bahkan, Feri menegaskan jika sejatinya armada mengakut rumput laut yang saat ini masuk ke Kabupaten Nunukan tidak kurang. Hanya saja, jumlah petani saat ini alami peningkatan hingga 100 persen dari tahun sebelumnya.

Sehingga, adanya pembatasan pengiriman agar para pedagang mendapatkan giliran untuk melakukan pengiriman rumput laut baik ke Pulau Jawa maupun ke Sulawesi Selatan.

“Kenapa, kita batasi. Itu supaya pedagang kita bisa kebagian semua barangnya naik. Jadi, tidak harus melihat barang si A harus naik dan barang si B tahan dulu karena sudah penuh, karena saat ini sudah ada 100 lebih pedagang rumput laut di Nunukan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Stok dan Penyaluran LPG 3 Kg di Tanjung Selor Tetap Aman dan Terkendali

Bahkan, Feri menyampaikan jika ada sekitar 60 pedagang rumput laut yang aktif melakukan pengiriman rumput laut.

“Jadi kalau ada yang minim angkutan, tidak begitu sebenarnya, dulu itu hanya 20 pedagang yang melakukan pengiriman, jadi tiap hari kontainer itu di isi. Tapi sekarang pedagang banyak, jadi ada pembatasan-pembatasan,” tambahnya.

Namun, terlepas dari itu, Feri berharap sekiranya solusi yang telah ditawarkan kepada para petani bisa menjadi acuan kepada para petani agar bisa terus meningkatan kualitas rumput lautnya jika ingin mendapatkan harga jual yang sesuai. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Nicky Saputra 

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *