benuanta.co.id, TARAKAN – Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kalimantan Utara, Rustan menilai peran Pemkot Tarakan dalam memberikan perlindungan nelayan tangkap tradisional selama ini yakni bantuan asuransi jiwa nelayan dari BPJS setempat sangat membantu.
Hal itu seiring beberapa kali terjadinya kecelakaan nelayan tangkap tradisional di laut lepas Kota Tarakan akibat cuaca buruk maupun kejadian tidak terduga lainnya.
“Karena kita lihat kejadian yang tidak diinginkan di laut itu sering terjadi, kami sudah bahas sama pak walikota,” ucap Rustan kepada benuanta.co.id Rabu (12/10/2022).
Adapun ia menjelaskan risiko yang sering terjadi nelayan tangkap tradisional saat melaut yakni kecelakaan akibat cuaca buruk.
“Kemudian biasa ada kelalaian nelayan,” tuturnya.
Namun seiring efek ada temuan kecelakaan dan kelalaian nelayan di laut lepas, Rustan menyebut partisipasi nelayan tangkap tradisional di Kota Tarakan pun sudah banyak mendaftar BPJS Ketenagakerjaan.
“Karena ada ratusan nelayan sudah sadar untuk mendaftar BPJS Ketenagakerjaan dan organisasi kami selalu memberikan edukasi serta mereka sangat terbantu,” ucapnya.
Termasuk pihaknya mengakui ada beberapa program BPJS di Kota Tarakan punya dampak positif baik untuk nelayan tangkap tradisional.
“Misalnya nelayan tersebut meninggal dunia, anaknya menerima santunan dan anggota keluarga,” tuturnya.
Sementara itu, KNTI Kaltara mencatat nelayan untuk di Kota Tarakan sendiri ada mencapai 4.000 jiwa.
“Dari 20 kelurahan di Kota Tarakan yang aktif dan mayoritas nelayan aktif terbanyak ada di Kecamatan Tarakan Timur, Tarakan Tengah, Tarakan Utara,” jelasnya.
Lebih lanjut, catatan data KNTI Kaltara dalam setiap tahunnya ada 5 sampai 7 nelayan meninggal dunia akibat kecelakaan di laut.
“Catatan kita dalam setiap tahunnya itu ada sekitar 5 sampai 7 orang yang meninggal dunia di laut jadi solusi kami minta pemerintah bisa berkomitmen melindungi nelayan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Yogi Wibawa







