benuanta.co.id, TARAKAN – Harga pada komoditas cabai di Kota Tarakan mengalami ketidakstabilan. Terlebih saat ini cuaca tak menentu juga mempengaruhi harga jual cabai di pasaran.
Kepala Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan Kota Tarakan, Elang Buana menjelaskan harga cabai yang cenderung mengalami peningkatan bukan hanya permasalahan di Tarakan saja.
“Ini masalah nasional, baik daerah Jawa juga. Kadang di sana lebih mahal juga, tapi mungkin kita sesuaikan nanti dengan pedagang kita,” ucapnya, Kamis (25/8/2022).
Saat ini, dilanjutkan Elang mayoritas petani cabai masih bergantung pada modal yang diberikan oleh pemodal. Sehingga pada saat panen, cabai tersebut di jual ke pemberi modal, nanti barulah pemberi modal yang melempar harga ke pasar.
“Bisa jadi tengkulak, tapi itu kata petani sangat membantu. Kalau di pasar itu orang ketiga jatuhnya, dari petani ke pemberi modal baru ke pedagang. Petani ini juga agak susah menjual langsung,” urai Elang.
Ia menegaskan, komoditas cabai sebagian besar telah memberdayakan petani lokal. Dalam satu pekannya mampu memproduksi 29 ton cabai.
“Cabai besar 14 ton, rawit 15 ton, itu lokal semu. Tapi kebutuhan kita memang besar juga, sebenarnya kebutuhan kita itu hanya 19 ton,” jelasnya.
Hasil panen cabai ini juga sejalan dengan ekspor dan impor yang masih pihaknya lakukan. Ia menerangkan dibanding kabupaten lain, harga cabai di Tarakan masih tergolong murah. Terlebih sentra hotikultura berada di wilayah Tarakan.
“Cabai ini kita kirim juga keluar Tarakan, tidak hanya cabai tapi juga tomat, ada juga yang dari Sulawesi kita kirim ke Tawau atau daerah lain di Kaltara, seperti Malinau dan KTT,” terang Elang.
Lebih jauh Elang menerangkan, masih ada pengambilan komoditas cabai dari wilayah Sulawesi, namun masyarakat Tarakan lebih menyukai cabai lokal karena mereka menganggap cabai lokal lebih segar dibanding cabai yang harus melalui proses pengiriman.
“Karena lebih segar, kualitas lainnya juga dan memang sedikit saja kita ambil dari Sulawesi, lebih banyak yang keluar Tarakan dibandingkan cabai yang masuk ke Tarakan,” bebernya.
Terpisah, pedagang cabai di Pasar Boompanjang, Siti (35) mengaku bahwa saat ini harga cabai yang dirinya jual tidak menentu setiap harinya. Terkadang ia bisa saja mendapatkan harga yang cukup mahal dari pemodal sehingga harga jual nya tak menentu.
Saat ini cabai yang ia jual seharga Rp 80 hingga Rp 100 ribu.
“Terkadang ada juga yang murah Rp 60 ribu tapi kalau ini masih di harga Rp 80 ribu ke atas. Kalau pelanggan ya beli beli saja karenakan lombok kebutuhan juga,” ujarnya.
Ia tidak merasa keberatan, jika harga jual tergolong fluktuatif selama stok cabai di Tarakan masih aman.
“Tidak apa kalau di atas Rp 80 ribu, yang khawatir itu kalau cabainya sampai kosong. Kasihan kita tidak jualan dan kasihan juga pembeli,” tandasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







