benuanta.co.id, TARAKAN – Penyelidikan terkait tertimbunnya seorang pria berumur 25 tahun di Jalan Anggrek II, Kelurahan Karang Anyar pada 18 Agustus 2022 lalu masih bergulir di Polsek Tarakan Barat.
Kapolsek Tarakan Barat, IPTU Bahyudin menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat tersangka atas tertimbunnya korban bernama Galih itu. Berdasarkan keterangan warga, sudah sering melarang korban untuk mengambil tanah di area tersebut.
“Kegiatan penambangan pasir galian C di lokasi tertimbunnya Galih sudah lama dilakukan. Saat ini masih dalam proses penyelidikan, belum ada tersangka, dan itu sudah pernah dilarang tapi tidak dihiraukan,” jelasnya, Selasa (23/8/2022).
Untuk diketahui korban yang merupakan warga Jalan Cahaya Baru, Kelurahan Karang Harapan ditemukan meninggal dunia setelah dilakukan pencarian selama 2,5 jam. Korban juga melakukan aktivitas jual beli tanah dari area penambangan tersebut.
Lebih lanjut Bahyudin menuturkan, beberapa saksi sudah pihaknya periksa termasuk meminta kejelasan menyoal status tanah timbunan tersebut.
“Bisa dibilang usahanya juga ilegal, kalau lokasi tanahnya itu setelah kami pastikan ke Ketua RT, ternyata ada klaim warga dengan Angkatan Laut, masuk dalam lokasi bermasalah,” bebernya.
Pasca kejadian, pihak kepolisian masih memasang garis polisi atau police line di area tersebut. Termasuk melarang warga agar tak mengambil tanah dan melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara).
Bahyudin menerangkan, bahwa pemilik lahan tersebut merupakan warga Kelurahan Kampung Empat bernama Sunyoto. Awalnya juga telah melarang bahkan sering melarang korban untuk tidak mengambil pasir di area timbunan itu.
“Kronologisnya waktu itu sekitar pukul 16.00, sebelum korban mengambil pasir, bapaknya korban, Sutrisno juga sudah datang mengambil tanah milik warga Sunyoto. Warga sudah sering melarang mengambil pasir di wilayah tersebut, karena khawatir terjadi longsor yang mengakibatkan pemukiman warga tertimbun,” jelasnya.
“Tapi tidak diindahkan, dan mereka tetap mengambil tanah itu menggunakan pick up milik Sutrisno, setelah punyanya penuh giliran mobil pick up Galih masuk mengambil pasir, dan di situlah tanah dari puncak longsor dan mengakibatkan Galih tertimbun,” lanjutnya.
Lalu satu temannya berteriak memanggil warga sekitar untuk membantu mengeluarkan Galih dari timbunan yang kira-kira dalamnya sekitar 2 meter di dalam tanah. Pada saat itu kemiringan gunung juga sudah mencapai 90 persen. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







