TNI AL Rilis Jalur Ranjau di Perairan Tarakan-Bunyu, Masyarakat Masih Tenang Melintas dan Budidaya Rumput Laut

benuanta.co.id, TARAKAN – Arus pelayaran Tarakan – Bunyu belum memiliki legalitas berdasarkan histori yang ada. Hal ini diperlihatkan dalam Peta Laut Indonesia Nomor 259 yang dikeluarkan Dinas Hidro Oseanografi TNI AL. Terdapat pula daerah ranjau yang belum disterilkan dan tidak diizinkan ada kegiatan aktivitas apapun.

Penyusun Program Sarana Prasarana Seksi Operasi Kantor Navigasi Tarakan, Tombus menjelaskan saat ini wilayah tersebut masih sering dilalui speedboat namun terdapat pula kegiatan masyarakat salah satunya rumput laut.

“Kalau masalah ranjau clear baru bisa dilanjutkan pembahasannya, ini terkait legalitasnya. Turunannya nanti dibuatkan Surat Keputusan (SK), kalau sudah ada legalitasnya berarti semua aturan tidak ada yang tumpang tindih,” jelasnya, Jumat (29/7/2022)

Baca Juga :  Kelenteng Ta Pek Kong Tanjung Selor Bersolek Sambut Imlek 2577

Tombus menuturkan bahwa harus ada sterilisasi lokasi yang masih terdapat ranjau di perairan Tarakan-Bunyu. Ia mengatakan, semua pelayaran yang melewati perairan Tarakan menggunakan Peta Laut Indonesia Nomor 259 tersebut, sebagai panduan memasuki perairan. Dibeberkannya terdapat ranjau pada jarak 11 mil dari bibir pantai di Pantai Amal.

“Ada daerah yang dibersihkan, karena ada pipa yang ditanam, masyarakat ini otodidak saja menanam bagan, dikhawatirkan pada saat menanam tiang rumput laut itu yang malah mengenai ranjau, kan berbahaya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dapur SPPG Polres Tarakan Diresmikan, Target Produksi Bertahap Hingga 2.000 Porsi

Adapun alur pelayaran Tarakan-Bunyu menggunakan Keputusan Menteri Perhubungan No. 141 Tahun 2020 tentang alur masuk Pelabuhan Tarakan. Ia melanjutkan, mulai dari luar lautan Merah Putih Melajur Tegak (MPMT) menandakan ada pelabuhan daratan Tarakan, juga telah dibuatkan lagi tanda untuk arahan para nakhoda yang memasuki alur pelayaran Tarakan.

“Kalau Tarakan-Bunyu, sesuai alur yang sudah ditetapkan untuk menjaga keselamatan dan keamanan pelayaran dalam pengguna perairan harus menggunakan yang sudah kami buat,” sebutnya.

Saat ini alur yang digunakan masih alur alternatif langsung tembak lurus. Setelah ditelusuri, salah satunya melewati daerah ranjau. Sementara jika menggunakan alur alternatif bisa memangkas waktu perjalanan, dihitung dari efektifitas lebih menghemat waktu daripada memutar.

Baca Juga :  Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Cuaca Tarakan Diprakirakan Didominasi Hujan

“Pemakaian alur speedboat kecil, di pulau kecil di Kaltara seperti Bunyu selama ini ada dua alternatif, kadang dari Tanjung Pasir tembak ke Bunyu lewat luar, kadang lewat Juata Laut, Tanjung Tibi baru ke Bunyu. Dalam arti belum ada penetapannya untuk alur tersebut,” tandasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *