benuanta.co.id, NUNUKAN – Masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) sedikit banyaknya masih bergantung pada barang-barang tambahan seperti gula, minyak goreng maupun gas LPG dari negeri Jiran untuk memenuhi kebutuhan.
Kepala Bidang Perdagangan Nunukan, R. Dior Frames menjelaskan, barang ini diperbolehkan masuk namun hanya diperuntukkan bagi masyarakat perbatasan, dengan nilai tertentu yakni 600 Ringgit Malaysia (RM) sesuai dengan Border Trade Agreement (BTA) atau perjanjian perdagangan lintas batas.
Namun kenyataanya, tak sedikit pula barang ini malah diperdagangkan bebas di luar daerah perbatasan dan dianggap barang tidak berizin atau lazim disebut ilegal.
“Barang itu hanya berlaku di wilayah perbatasan, tidak diperbolehkan keluar daerah,” tegas R. Dior Frames kepada benuanta.co.id, Rabu (22/6/2022).
Apalagi barang makanan tambahan asal Malaysia seperti daging, nugget hingga sosis yang notabenenya bukan kebutuhan pokok masih bisa masuk namun tidak diperbolehkan melebihi 600 RM.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Nunukan, H. Asmar menambahkan, pihaknya akan menyurati aparat terkait untuk menyampaikan item barang yang harus terpenuhi di masyarakat di luar dari kebutuhan pokok sebagian kebutuhan penunjang.
“Daging Allana ini dari dulu sebenarnya sudah dilarang, apalagi penyakit kuku dan mulut pada hewan itu dahulunya dari India, sehingga menjadi dasar tidak diperbolehkan masuk ke Indonesia,” tandasnya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor : Yogi Wibawa







