benuanta.co.id, TARAKAN – Pemeriksaan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang dilakukan oleh Balai Veteriner Banjarbaru, hingga kini belum ditemukan gejala yang mengarah PMK pada ternak di Kalimantan Utara.
Meski harus menunggu hasil uji laboratorium pekan depan, namun pihak balai meyakini bahwa sebagian besar ternak di Kaltara merupakan ternak lokal.
Balai yang menaungi seluruh wilayah di Kalimantan ini, memastikan telah melakukan pengecekan PMK di kabupaten/kota di Kaltara.
“Mulai Rabu lalu kami ditugaskan keliling Kaltara yaitu Bulungan, Kabupaten Tanah Tidung, Malinau, dan hari ini Tarakan. Dari 3 kabupaten belum ada gejala penyakit mulut dan kuku. Dari informasi yang kami dapat, ternak disini merupakan ternak lokal. Untuk ternak dari luar Kaltara, pada tahun lalu terakhir dipasok,” ujar Medic Veteriner Drh. Ichwan Yuniarto, kepada benuanta.co.id, Sabtu (14/5/2022).
Balai Veteriner Banjarbaru telah periksa sebanyak 100 lebih untuk dilakukan uji laboratorium di Surabaya. Wilayah tersebut dipilih sebagai rujukan penyakit mulut dan kuku oleh pemerintah pusat.
Namun begitu, pihaknya pun terus berkoordinasi dengan laboratorium Surabaya untuk mempercepat waktu sehingga pengujian juga dapat dilakukan di Balai Veteriner Banjarbaru.
“Kita akan melakukan pengujian juga di Balai Veteriner Banjarbaru. Untuk hasil uji sampel di Kaltara masih belum. Mungkin hari senin baru dibawa. Karena besok kita baru pemeriksaan ke Nunukan, untuk memastikan bahwa semua kabupaten dan kota aman dari penyakit PMK,” tambah Drh. Ichwan Yuniarto.
Lebih lanjut, Balai Veteriner Banjarbaru pun menegaskan bahwa PMK ini tidak menular terhadap manusia. Kemudian juga, Drh. Ichwan Yuniarto menjelaskan apabila hewan ternak mengidap penyakit ini, dagingnya masih dapat dikonsumsi.
“Tapi untuk jeroan dan tulang tidak bisa, karna virusnya bertahan di situ. Selain itu, penyakit ini kematiannya kecil hanya penularannya saja cepat,” lanjutnya.
Selain sapi, PMK juga dapat mewabah ke semua hewan berkuku belah yakni kambing, kuda dan juga babi. Namun demikian, peluang kesembuhan dijelaskannya masih memungkinkan. “Sembuhnya bisa tapi ada dua. Sembuh tapi virus masih ada, dan satunya lagi sembuh total,” terangnya.(*)
Reporter: Kristianto Triwibowo
Editor: Ramli







