Terserang PMK, Hewan Ternak Dapat Dikonsumsi Manusia

benuanta.co.id, TARAKAN – Mencegah masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kota Tarakan, berbagai pemeriksaan klinis telah dilakukan Dinas Ketahanan Pangan Kota Tarakan. Namun demikian, PMK yang menyerang hewan ternak dikabarkan tidak menular ke manusia dan masih dapat dikonsumsi.

Seperti dijelaskan oleh Medik Veteriner Dinas Ketahanan Pangan Kota Tarakan, Wikan Addi Cahya, bahwa penularan PMK enggan mengganggu manusia seperti pandemi Covid-19.

“Kalau untuk mengganggu masyarakat itu insyaallah tidak. Itu bukan penyakit yang perlu ditakuti konsumen. Jadi kalau misalnya dipotong lalu dimakan manusia pun tidak masalah,” ungkap Medik Veteriner, Wikan Addi Cahya kepada benuanta.co.id, Jumat (14/5/2022).

Baca Juga :  Awal Tahun 2026, Angkutan Udara Penyumbang Terbesar Deflasi di Tarakan

Bahkan, petugas hingga peternak yang menangani pun tidak akan tertular penyakit hewan tersebut. Meski tak berdampak langsung pada kesehatan manusia, merebaknya PMK diketahui akan berpengaruh kepada ternak sapi yang lain dan menguras nilai ekonomis.

Berdasarkan informasi Dinas Ketahanan Pangan Kota Tarakan, terdapat ciri-ciri fisik hewan ternak bila terserang PMK.

Kemudian, dirangkum dari Media Publikasi Litbang Kementerian Pertanian, hewan yang terinfeksi PMK memperlihatkan gejala klinis yang patognomonik berupa lepuh atau lesi pada mulut dan pada seluruh teracak kaki.

Baca Juga :  JPO Yos Sudarso Ditempati Orang Terlantar, Dinsos Tarakan Gerak Cepat

“Ciri-ciri yang terlihat, ada lesi-lesi pada rongga mulut, lidah, gusi alami luka. Kemudian peradangan atau luka pada bagian diatas kuku. Bisa sembuh, tergantung daya tahan tubuh sapi itu. Karena virus ini kan, tergantung daya tahan tubuh,” tambahnya.

Adapun upaya mengatasi temuan hewan ternak yang positif PMK, yakni dengan cara temukan kasus kemudian isolasi agar PMK tidak menyebar. Hal itu pun sembari menunggu adanya vaksin.

Baca Juga :  Relokasi Pemerintahan, Wilayah Utara Berpotensi jadi Simpul Baru Ekonomi Tarakan

“Dampak ke hewan itu lumayan, sakitnya berada di bagian mulut, stres tidak mau makan sehingga badannya ternak cepat kurus. Harga jualnya jatuh sehingga peternak takut untuk berternak,” tutupnya. (*)

Reporter : Kristianto Triwibowo

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *