benuanta.co.id, TARAKAN – Intensitas curah hujan yang tinggi kerap kali memicu terjadi tanah longsor di Tarakan. Biasanya, wilayah rawan longsor memiliki kontur tanah yang labil sehingga dampaknya akan sangat berisiko bagi warga yang bermukim di sekitar are perbukitan.
Sedangkan di Tarakan sendiri, bencana tanah longsor seringkali memakan korban jiwa. Sejak tahun 2013, Badan Penanggulagn Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat kurang lebih 30 jiwa yang tertimpa bencana tersebut.
Hal ini juga diungkapkan langsung oleh Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan Ir. Kajat Prasetio, bahwa telah ada pendataan dengan memanggil seluruh lurah di Kota Tarakan terkait bencana longsor ini.
“Untuk penentuannya titik-titik rawan longsor ini sudah kita mulai dari tahun 2016, dan kita sudah panggil kelurahan seluruh Tarakan juga,” ungkapnya saat ditemui benuanta.co.id, Jumat (13/8).
Kajat menyebutkan, titik rawan longsor ini biasanya terjadi di wilayah Karang Anyar, Kampung Bugis, Karang Balik, sebagian daerah Sebengkok, Mamburungan dan Juata. Kata dia, pemerintah juga telah sering memberikan himbauan ke masyarakat untuk tidak membangun pada kemiringan lebih dari 30 derajat.
“Sebetulnya aturan itu sudah berlaku apabila kemiringan lebih dari 30 derajat tidak boleh membangun memang. Tapi masyarakat ini tetap membuka lahan tanpa adanya suatu cara teknik sipil yang memadai,” terangnya.
Selain harus menggunakan teknik sipil yang baik, masyarakat juga diminta agar meminta izin kepada RT atau lurah setempat. “Inilah ya terjadi rawan longsor juga masyarakat membangun tanpa teknik sipil yang memadai kemudian tidak ada ijin juga ke Lurah atau RT jadi tidak saling mengetahui juga,” tambahnya.
Antisipasi lain yang saat ini tengah digalakkan oleh BPBD salah adalah memberikan kiat-kiat dengan menandai rumah rawan longsor. Namun hal ini masih terkendala dengan kurangnya anggaran.
“Kita sebenarnya sudah lama membuat rencana untuk menandai rumah lawan longsor. Risiko longsor dan aman itu memang agak sulit penerapannya, karena anggaran saat ini juga sangat minim,” tutup dia. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa/Nicky Saputra







