SULAM KHILMI: DIPREDIKSI HUJAN SEDANG DISERTAI ANGIN KENCANG DIMALAM HARI
TANJUNG SELOR – Perkembangan siklon akhir-akhir ini cukup meningkat. Sebelumnya ada Siklon Tropis Seroja dan Siklon Tropis Odette, setelah berakhir muncul siklon baru yang masih berupa bibit Siklon 94 W namanya, hingga akhirnya menjadi Siklon Tropis Surigae.
“Jadi ini terdeteksi mulai pada tanggal 12 April 2021 yang namanya bibit 94 W, dari situ sudah muncul benih cuaca ekstrem,” ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan Muhammad Sulam Khilmi kepada benuanta.co.id, Kamis 15 April 2021.
Dia menuturkan, di tanggal 14 April 2021 Negara Jepang atau Japan Meteorogical Agency (JMA), secara konsesus merilis terjadinya Siklon Tropis Surigae di wilayahnya. Kata dia, pantauan BMKG siklon ini masih terlihat kuat, kecepatan anginnya mencapai 95 Kilometer per jam, posisinya di Samudera Pasifik utara Papua.
“Tapi kini pusat siklonnya sudah bergerak menjauhi Indonesia dengan kecepatan geraknya 2 Kilometer per jam,” ucapnya.
Sulam mengatakan, dampak untuk Provinsi Kaltara dalam kurun waktu 24 jam kedepan yang lebih signifikan adalah angin kencang. Terpantau beberapa hari terakhir angin di Kaltara cukup kencang. Padahal dalam waktu normal kecepatan angin hanya 10 knots atau 18 Kilometer per jam.
“Dalam catatan kami 2 malam terakhir angin cukup kencang, di malam tanggal 13 menuju 14 April terjadi kecepatan angin mencapai 26 knots setara dengan 54 Kilometer per jam. Kemudian tadi malam dari tanggal 14 ke 15 April kecepatan angin mencapai 22 knots atau 44 Kilometer per jam,” sebutnya.
Dia mengatakan untuk fenomena ini kebanyakan adalah angin kencang, untuk hujannya intensitas sedang disertai petir. Kondisi ini diprediksi akan bertahan dalam waktu 72 jam kedepan
“Di sini lebih fokus ke anginnya yang kencang, diprediksi akan bertahan selama 3 hari. Walaupun menjauhi Indonesia namun dampaknya masih akan terasa hingga 3 hari kedepan terutama hujan intensitas sedang dengan angin kencang di malam hari,” paparnya.
Dia menambahkan untuk tinggi gelombang hampir semua wilayah terdampak terutama di kawasan sekitar siklon. Untuk Kaltara tinggi gelombang tidak terlalu signifikan.
“Yang terdampak sebenarnya adalah Laut Sulawesi dengan Papua bisa 4 hingga 6 meter, di Kaltara tidak terlalu signifikan memang hanya mencapai 2 meter dominan di malam hari,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: M. Yanudin







