SONNY Lolong, pendiri Batik D’Erte asal Tarakan terbilang sukses sebagai pembatik di Kalimantan Utara (Kaltara). Dilahirkan ‘rahim’ Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan sebagai pembantik dengan mengikuti pelatihan Dinas Pedagangan Koperasi dan UMKM Tarakan pada pertengahan 2011 lalu, menjadi modal awal Sonny Lolong sebagai pembatik. Ilmu membatik yang didapatkannya saat mengikuti pelatihan di salah satu rumah batik Yogyakarta, kini justru menambah pundi-pundi pendapatannya.
Dikisahkan Sonny, pelatihan terbuka yang digelar Dinas Pedagangan Koperasi dan UMKM Tarakan diikuti sekitar 200 peserta. Kala itu, hanya 20 orang yang dipilih lalu diberangkatkan ke Yogyakarta. Di sana, ia dan peserta lain langsung diajarkan membatik dengan semua alat batik selama lima hari penuh. Ilmu dasar membatik dibawa Sonny pulang ke Tarakan, dengan dibekali peralatan dan bahan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan saat itu Sonny memulai produksi batik pertamanya.
“Pemerintah kota yang menjabat saat itu Udin Hianggio (Walikota Tarakan) memberikan alat dan bahan ke masing-masing dari 20 orang. Dari 20 orang itu yang aktif hanya 5 orang. Saya (Sonny Lolong), Anto Gondrong, sedangkan tiga orang lainnya bergabung menjadi satu (rumah produksi),” terangnya kepada benuanta.
Mulanya, batik cap merupakan keahlian pertama yang ia geluti. Sementara motifnya, sudah disediakan oleh Pemkot Tarakan. Tak lain adalah motif-motif suku Tidung yang paling dominan dikerjakannya. Awal adanya batik Tarakan dari para pengrajin batik, Pemkot Tarakan langsung memberikan dukungan penuh terhadap hasil produksi para pembatik. Mulai dari mempromosikan memasrkan memasarkan batik-batik tersebut. Tak jarang hasil batik tarakan juga dibawa pemerintah ke pameran-pameran batik nasional.
“Seiring berjalannya waktu karena prospek yang sangat bagus, tahun 2012 memberanikan diri untuk membuka rumah batik sendiri yang diberi nama Rumah Batik D’ERTE,” tukasnya.
Saat itu ia belum memiliki karyawan dan hanya memproduksi batik sendiri, dan terkadang dibantu keluarga di rumah. Ia mengaku belum berani menggunakan karyawan lantaran belum ada modal kuat serta tak adanya pasar batik lokal yang pasti di Tarakan. “Butuh proses yang panjang untuk mengenalkan batik Tarakan,” singkatnya.
Mengenai motif batik, ia lebih kepada motif-motif suku tidung yang ada di Tarakan. Selama memiliki rumah batik sendiri, motif yang sering diproduksi yakni motif Tabur Bintang, Padau Tujuh Dulung, Sungkul Baloy, Tanduk Galung dan sebagainya yang berkaitan dengan budaya lokal di Tarakan. Tak hanya budaya, sisi kearifan lokal diambil dari flora dan fauna seperti bekantan, buah terap, pakis-pakisan di pesisir pantai hingga motif-motif modern yang dikembangkan oleh para pembatik.
Kata Sonny, motif batik yang diproduksinya terbilang lebih berbeda dengan batik lokal lain yang ada di Kaltara. Sebab, motif batik miliknya memiliki khas tersendiri dan sangat kental dengan budaya lokal. Beda dengan batik Malinau, Nunukan, dan Bulungan. Lebih ke motif Dayak sementara di Bulungan perpaduan batik Tidung dan Bulungan, sedangkan Malinau motifnya lebih kaya lantaran banyaknya suku Dayak yang bermukim di Malinau sehingga melahirkan banyak motif.
“Saya berharap pemerintah saat ini juga bisa memberikan pelatihan membatik. Pelatihan itu dapat benar-benar melahirkan pembatik baru dengan terus didampingi pemerintah,” harapnya.
Sejauh ini, Pemkot Tarakan diakuinya sudah memesan batik khusus untuk Aperatur Sipil Negara (ASN) Tarakan dengan motif batik Padau Tujuh Dulung. Tak hanya ASN, motif Tanduk Galung dan Pakis-pakisan juga digemari serta banyak dipesan warga Tarakan hingga luar Tarakan. Sebab, motif batik tersebut sangat kental dengan nuansa budaya Tidung.
“Soal kualitas, hampir semuanya sama tergantung bahan kain. Teknik pengecapan dan teknik pewarnaan untuk di Kaltara hampir seragamlah kualitas itu. Tidak ada yang menonjol tidak ada yang jelek. Untuk bahan utama masih tergolong mahal karena masih mendatangakan bahan baku dari pulau Jawa,” tuturnya.
Mengenai bahan warna, dirinya lebih sering menggunakan pewarna alami yang didaptkan dari alam. Itu sudah dilakukannya beberapa tahun belakangan, hasil warnanya lebih cenderung berbeda dengan bahan sintetis yang menggunakan pewarna kimia. “Hanya karena ada kebutuhan pasar yang cukup besar dari dinas-dinas maka harus menggunakan pewarna sintetis,” akunya.
Ia juga mengakui pesanan batik dari pemerintah maupun warga mulai berdatangan. Satu hari ia dan para karyawannya dapat menyelesaikan 5 hingga 6 lembar kain. Namun begitu, produksi batik juga tergantung cuaca. “Tenaga kurang lebih 6 orang, proses yang dilakukan selama ini menggunakan teknik cap,” sebutnya.
Ia juga mengapresiasi kebijakan Provinsi Kaltara dalam hal ini Zainal A Paliwang dan Yansen TP mewajibkan ASN menggunakan batik khas Kaltara. Imbasnya sangat luar biasa bagi batik dan para pembatik di Kaltara. Peningkatan penjualannya sangat signifikan setelah adanya himbauan menggunakan batik tersebut. Ia berharap tidak hanya di awal, dan bisa terus berkelanjutan untuk para pekerja swasta lainnya di Kaltara. Begitu juga dengan karyawan BUMN dan BUMD. Ia mengharapkan ikut mengenakan dan memesan batik khas Kaltara. Tujuannya agar batik Kaltara digunakan mayoritas oleh pekerja di Kaltara, dengan begitu sekaligus ikut mempromosikan batik khas Kaltara.
Sebelum adanya kebijakan pemerintahan, para pembatik sama sekali tidak ada pemasukan yang signfikan. Ditambah lagi masuknya masa pandemi covid-19 setahun lalu, pembatik di Kaltara diakuinya tak bisa bergantung dari penjualan batik. Ketika adanya kebijakan pemerintah yang diawali dengan Pemerintah Kota Tarakan yang memesan batik untuk ASN, geliat ekonomi para pembatik di Tarakan mulai tumbuh saat itu. ditambah lagi dengan adanya kebijakan Provinsi Kaltara, dengan begitu para pembatik di Tarakan dan daerah lain kembali bersemangat untuk melakukan produksi batik lagi.
“Selama setahun pandemi penjualan batik jauh di bawah harapan. Kami para pembatik sangat berterimakasih dengan adanya kebijakan itu,” tuturnya. (kik)







