oleh

Pesona Batik Benuanta

Namanya batik siapa yang tak kenal. Khas motif yang meliuk-liuk di atas kain sarat dengan penyampaian pesan. Perpaduan warna yang memanjakan mata, menambah aura bagi siapa saja yang mengenakannya. Begitu juga dengan khas batik Kalimantan Utara (Kaltara) yang tak kalah pesona dari batik daerah lain. Terlebih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara di bawah kepemimpinan Zainal A Paliwang dan Yansen TP menganjurkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kaltara menggunakan batik khas Kaltara. Hal itu sekaligus menumbuhkan geliat perekonomian para pembatik dan mempromosikan salah satu kearifan lokal Kaltara di kancah nasional maupun internasional kelak.

=========

BATIK biasa dikenal berasal dari daerah Jawa yang kemudian dikenakan semua kalangan. Baik acara formal maupun non formal, batik khas Pulau Jawa mudah ditemukan bahkan penggunanya cocok untuk semua golongan. Motif batik khas Pulau Jawa juga tak hanya di level nasional, bahkan sudah tenar di luar negeri. Salah satu Nelson Mandela, pemimpin Afrika Selatan yang dikenal sangat menyukai batik. Bahkan Nelson Mandela yang dicintai rakyatnya itu menggunakan pakaian batik tak hanya diacara kenegaraan, di kehidupan sehari-harinya tak jarang Nelson Mandela menggunakan pakaian batik.

Kisah perjalanan batik di nusantara memang tak sepanjang usia kemerdekaan Indonesia. Sejarah batik Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara di Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.

Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang. Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri yakni, pohon mengkudu, soga, nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Pada umumnya motif batik Kalimantan berkembang dari motif ukir kayu khas Dayak, namun ada juga motif yang terinspirasi dari flora dan fauna daerah setempat, serta pengaruh budaya pendatang. Batik Ketapang di Kalimantan Barat misalnya, merupakan batik Kalimantan dengan latar budaya Melayu. Motif Dayak Latar Gringsing merupakan perpaduan motif batik Dayak dengan motif batik Jawa. Berkembang pula batik Tidayu, corak ini terilhami dari tiga budaya sekaligus, yakni Dayak, Melayu, dan Tionghoa yang menghasilkan motif yang menarik. Motif batik Dayak mencerminkan budaya masyarakat Dayak. Istilah Dayak yang mempunyai arti “sungai”.

Baca Juga :  Perawatan Jalan Sudah Berjalan, Ingkong Ala Sebut Ada yang Asal-asalan

Sehingga batik ini menggambarkan bermacam-macam aktivitas yang sering berkaitan dengan sungai. Secara umum batik Kalimantan memiliki ciri khas warna yang mencolok, berani, dan warna- warni. Dewasa ini berkembang pula batik di provinsi termuda Indonesia, yaitu Kalimantan Utara, batiknya dikenal dengan istilah Batik Borneo. Batik Borneo memiliki corak yang beragam dan motif lebih halus. Eksistensi batik Borneo semakin memperkaya khasanah budaya batik dari Kalimantan.

Batik Kaltara yang lahir dari ide kreatif para pembatik beberapa daerah di Kaltara itu kini menjadi salah satu perhatian tersendiri olah para kepala daerah. Sebut saja Pemrintah Kota (Pemkot) Tarakan yang beberapa waktu lalu akan menyeragamkan penggunaan seragam batik dengan motif khas Tarakan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Kota Tarakan. Hal ini merupakan upaya Pemkot untuk bisa meningkatkan perekonomian masyarakat terutama para pelaku usaha UMKM di tengah pandemi Covid-19.

“Jadi tahap pertama ini untuk ASN dulu dan kita sudah pesan mulai diskusi tahun lalu dengan pebatik kita, karena ada Covid-19 agak terlambat. Tapi kita tetap berkomitmen untuk menggunakan batik lokal Tarakan ini dipakai hari Kamis seluruh ASN,”ujar dr. H. Khairul, M.Kes kepada benuanta.co.id, beberapa waktu lalu.

Tak hanya sampai di situ, orang nomor satu di Tarakan ini juga akan menerapkan pakaian batik kepada tenaga kontrak di lingkup Pemkot, BUMD, dan instansi vertikal untuk menggunakan batik dari Tarakan. “Nanti apakah instansi vertikal ini mau sama motifnya dengan Pemkot atau berbeda, karena BUMN atau instansi vertikal sudah ada batik seragam. Tetapi, katakanlah nanti batik Tarakan dipakai misalnya hari Jumat, yang hari Kamis pakai batik seragam mereka. Supaya pemasaran batik kita ini bisa bergerak (perekonomian),” terangnya.

Sama halnya dengan di lingkup pendidikan, dr. Khairul juga berharap seluruh sekolah baik negeri atau swasta juga bisa menggunakan batik khas Bumi Paguntaka ini. “Kita berharap seluruh lah (swasta dan negeri) karena anak sekolah ini sama-sama juga anak Tarakan toh,” harapnya.

Mengenai harga batik Tarakan yang saat ini dianggap harganya belum kompetitif dengan batik lainnya, pria berusia 56 tahun ini menyebut, jika produksinya semakin bagus, praktis persoalan harga juga akan semakin murah. “Memang, tetapi kalau tidak begitu kapan mereka bisa. Lama-lama kalau produksi semakin besar, tentu akan lebih murah mungkin karena tidak ada biaya pengiriman dan sebagainya. Kalau kita tidak dorong, ini (batik Tarakan) akan menjadi timbul tenggelam saja. Kita berharapnya menggunakan batik Tarakan, dikerjakan oleh pengrajin Tarakan. Jangan sampai motifnya Tarakan, nyetaknya di Jawa, ‘kan jadi tidak menumbuhkan UMKM kita,” imbuhnya.

Hal itu diperkuat dengan kebijakan yang dibuat Gubernur Kaltara, Zainal A Paliwang yang mewajibkan ASN di lingkup Pemprov Kaltara ikut menggunakan pakaian batik pada hari kerja, seperti Kamis dan Jumat. Kata Zainal, dengan begitu kearifan lokal Kaltara dapat tumbuh serta meningkatkan perekonomian. “Saya mengajak semua saudaraku untuk mencintai batik. Saat saya di Jakarta sebelum pilkada saya selalu pakai baju batik Kaltara. Mari kita mengangkat Kaltara dari batiknya, siapa lagi kalau bukan kita, kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang,” pungkasnya.

Baca Juga :  Batik Kaltara akan Dibukukan, Gubernur Akan Launching di Hari Jadi Kaltara

Tentu kebijakan itu menjadi angina segara bagi para pebatik di Kaltara. Salah satunya Pengrajin Batik D’Erte, Sonny Lolong menilai, upaya orang nomor satu di Kaltara tersebut sangat tepat. Karena telah menyentuh kearifan lokal dan menstimulasi roda ekonomi masyarakat. “Ini angin segar bagi kami pengrajin batik. Kami apresiasi banget kepada Gubernur Kaltara yang telah mengangkat batik khas daerah kita, apalagi di tengah pandemi ini sangat mendorong keberlanjutan kerajinan batik kita,” ucap Sonny kepada benuanta.co.id.

Selama pandemi Covid-19, Sonny mengaku mengalami berbagai kendala dalam pemasaran. Untuk itu, pengrajin batik yang melibatkan kaum difabel ini menaruh harapan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur agar penggunaan batik khas Kaltara yang telah dicanangkan dapat berlanjut.

“Kami berharap kepada Gubernur supaya ini benar-benar diwujudkan dan berkelanjutan. Jangan sampai di awal-awal saja,” pintanya.

Dirinya mendorong Pemerintah Provinsi Kaltaraagar melibatkan semua pembatik di daerah untuk memproduksi batik khas Kaltara. “Misalkan Pemprov memesan ribuan baju batik khas Kaltara, itu kan banyak. Nah alangkah baiknya itu diteruskan saja kepada setiap OPD, kemudian setiap OPD bisa memesan batik ke pengrajin-pengrajin di Kaltara. Jadi tidak hanya satu sumber pembatik saja agar semua pembatik diberi kesempatan berkarya untuk daerah,” tandasnya.

Pesona batik Kaltara kini mulai tumbuh, hal itu pastinya diikuti dengan geliat ekonomi para pengrajin batik. Masyarakat Kaltara yang sebelumnya tak sama sekali mengenal batik khas daerahnya kini ikut bangga dengan kebijakan itu. Begitu juga dengan para pebatik di daerah-daerah yang ada di Kaltara seperti pemilik sekaligus pengrajin batik di Bulungan, Ainun Farida merasa bersyukur, sebab Gubernur Kaltara telah menjadikan batik sebagai benda yang harus dikenakan di hari-hari tertentu saat kedinasan.

“Pertama-tama saya mengucapkan alhamdulillah, bersyukur atas apa yang beliau sampaikan saat menjabat agar menumbuhkan kearifan lokal, yakni pakai batik khas Kaltara. Kearifan lokal beliau sangat luar biasa,” ungkap Ainun Farida sebagai Owner Bultiya Farida Gallery kepada benuanta.co.id.

Menurutnya, Gubernur Kaltara sangat peduli atas budaya lokal di Kaltara. Hanya saja dirinya tidak mengklaim batik yang dikerjakan menjadi satu-satunya batik di Kaltara. Tapi batik perpaduan corak Bulungan Tidung Dayak, disingkat Bultiya, merupakan bagian batik yang ada di Bumi Benuanta. “Menyebut batik Kaltara bukan hanya batik Bultiya seperti yang saya punya. Tapi ada batik Malinau, batik KTT, batik Nunukan dan batik Tarakan. Walaupun batik Bultiya berada di Ibukota Provinsi, ini menjadi bagian batik Kaltara,” sebutnya.

Secara historis, batik Bultiya sudah ada sebelum Provinsi Kaltara terbentuk, yakni tahun 2010, hanya saja batik khas Bulungan ini belum memiliki nama. Bultiya semakin naik pamor setelah diapresiasi oleh Bupati Bulungan Budiman Arifin kala itu di tahun 2012 ketika acara Birau.

“Atas besutan pak Budiman Arifin di tahun 2012, beliau fokus betul dengan batik ini agar ditampilkan di acara Birau. Dari situlah lahir nama Bultiya karena memang belum punya nama,” jelasnya.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara dan Wali Kota Tarakan Akan Bahas Pengembalian Aset Pelabuhan

Bunda Ainun-sapaan akrabnya-menuturkan, batik Bultiya dapat dikenali karena warnanya yang terang, umumnya batik Kalimantan memang memiliki warna yang mencolok. Batik Bultiya identik dengan warna kuning kunyit untuk Bulungan, warna biru muda untuk Tidung dan warna coklat tua untuk Dayak.

“Batik Kalimantan itu pasti ngejreng. Berbeda dengan batik dari Jawa terkesan kalem, kebanyakan warna tanah yakni coklat dan putih,” tukasnya.

Secara detail, makna kuning di batik Bultiya berasal dari bunga kunyit yang banyak dipakai oleh suku Bulungan. Biasanya pada keraton Bulungan dan rumah tua di Tanjung Palas itu memakai motif bunga kunyit. “Kata tetua kita ini dipakai oleh Kesultanan Bulungan, kunyit sangat melekat dengan masyarakat. Saat mau menikah bedaknya kunyit, saat melahirkan jamunya pakai kunyit, anak lahir pusatnya diberikan kunyit dan obat-obatan kebanyakan dari kunyit,” ujarnya.

Dia menambahkan, tak hanya batik Bultiya saja yang ada di Bulungan, ada juga batik yang diproduksi oleh pengrajin lain. Di antaranya batik Dabuti, batik Gunung Putih dan batik Budiman. Untuk itu pihaknya meminta agar pemerintah memberikan perhatian lebih lagi terhadap karya lokal Bulungan.

Pesona batik Kaltara juga ada pada Kabupaten Nunukan yang telah memiliki batik khas daerah diberi nama Lulantatibu. Merupakan singkatan dari nama sejumlah suku Dayak yang menghuni wilayah perbatasan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Di antaranya adalah Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, Dayak Tidung dan Bulungan. Batik Lulantatibu sendiri saat ini telah dipatenkan dan resmi menerima HAKI pada Mei 2017 lalu. Diterangkan Kasi Kemitraan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Nunukan, Wahyu Muji Lestari, S.Sn, pada 2010 awal mula melakukan penggalian potensi ukiran atau motif ukiran yang ada di Kalimantan Utara, khususnya yang ada di Kabupaten Nunukan.

“Kita mengangkat semua etnis yang ada di wilayah Kabupaten Nunukan, karena kita tidak bisa mengangkat satu etnis saja. Karena di Nunukan sudah masuk dalam perda itu Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, Dayak Tidung dan Bulungan,” kata Wahyu Muji Lestari, kepada benuanta.co.id.

Motif batik khas Kaltara juga dimiliki Kabupaten Malinau, yakni Batik Busak Uwe. Batik satu ini juga menjadi salah satu favorit kalangan ASN di Pemprov Kaltara. Itu setelah batik Busak Uwe sudah sering dikenakan Gubernu dan Wakil Gubernur. Sehingga, batik ini secara tidak langsung dibranding oleh pemimpin Kaltara. “Dulu pasaran kita hanya sekitar wilayah Malinau saja. Tapi sekarang sudah menjangkau seluruh wilayah Kaltara, karena banyak dari Tarakan, Nunukan, Bulungan dan KTT yang memesan ke pengrajin kita,” tuturnya.

Harapan pebatik Kaltara akhirnya tercapai dengan adanya kebijakan Gubernur Kaltara. Menorehkan pesona batik Kaltara ke kancah nasional dan internasional ke depannya bakal tercapai bila batik sudah eksis di Kaltara. Kalangan masyarakat juga harus mendukung langkah baik pemerintah untuk menonjolkan budaya Kaltara melalui batik. Budaya leluhur serta khas Kaltara dijadikan karya, dijadikan pakaian yang menjadikan penggunanya tampil lebih elegan berkat pesona batik Benuanta. (kik/tim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed