NUNUKAN – Sebanyak 1.201 butir munisi aktif peninggalan pasukan gurkha di Lumbis Hulu ditemukan warga dan satgas pamtas Republik Indonesia – Malaysia Yonarhanud 16/SBC kostrat pos Lumbis, hal itu pun dibenrakan oleh Plt. Camat Lumbis Hulu Justinus, S.Sos,. M.A.P, Senin 8 Februari 2021.
Bahwa ada warga Lumbis Hulu yang bernama Frengky, Boy dan igo menemukan munisi aktif yang diduga milik Gurkha di gunung Butau Lumbis Hulu tepatnya kurang lebih satu kilo meter dari perumahan warga saat ini, ditemukannya amunisi tersebut berawal pada saat itu frengky dan kawannya sedang menggali tanah untuk memasang jerat babi hutan, saat menggali sekitar kedalaman kurang lebih 35-40 cm, tiba-tiba frengky kaget saat alat yang dipakai menggali tanah tersebut bergesekan degan munisi tersebut, perkiraannya suara batu yang berada dalam tanah tersebut, ternyata sebuah munisi yang masih aktif sebanyak 10 buah, ketiga warga tersebut langsung menuju ke Pos Pamtas Tau Lumbis untuk melaporkan kepada Danpos Letda Arhanud Sutrisno Sitakar, S.Tr, Han, bahwa mereka menemukan munisi aktif tersebut.
Setelah kejadian tersebut Letda Arhanud Sutrisno Sitakar menemui Plt. Camat Lumbis Hulu, menyampaikan bahwa ada tiga warga setempat menemukan munisi yang masih aktif, setelah itu pak Danpos ijin untuk masuk hutan untuk melakukan penyisiran lokasi ke gunung Butau Lumbis Hulu bersama ketiga orang warga sebagai pelapor tersebut menuju tempat penemuan amunisi tersebut dengan membawa alat seadanya seperti cangkul, skop dan parang tanpa membawa alat deteksi logam. Akhirnya anggota Pos Lumbis melakukan penggalian tanah tempat diketemukan munisi tersebut dan menemukan munisi aktif yang diduga milik pasukan Gurkha berjumlah 1.201 butir munisi yang masih aktif.
Saat di konfirmasih kepada saksi hidup yang ada saat ini yaitu bapak Tukang Umik selaku Veteran Pejuang Sukuan Tempur membenarkan adanya perang konfrontasi RI-MLY diperbatasan Tau Lumbis, yang saat sekarang ini menjadi Kecamatan Lumbis Hulu, sekitar Tahun 1964-1967, sempat terjadi kontak senjata antara tentara Indonesia dan Malaysia tepatnya Tau Lumbis, suasana saat itu sangat menegangkan masyarakat sekitar.
“Kami dulu berumah di atas gunung Pipikan Tau Lumbis, kami tidak bermukim di daerah dataran rendah tempat kami bermukim, seperti saat sekarang ini,” kata Tukang Umik kepada benuanta.co.id, Senin (8/2/2021).
Tukang Umik juga menjelaskan, Saat terjadinya penyerangan terhadap tentara Indonesia pada pagi hari sekitar jam 09.00 wita, pasukan Gurkha melepaskan tembakan dari gunung Butau Tau Lumbis menuju gunung Pipikan tempat warga bermukim dan POS TNI saat itu, saat itu kapten Prowoto sedang mandi dianak sungai Ramok bersama kedua anggotanya berpangkat kopral dan yang lainnya sedang sholat bersama wakil komandan Mayor Dailan, Kapten Prowoto bergegas merayap kembali ke POS untuk memerintahkan anggotanya untuk melakukan perlawanan membalas penembakan tersebut, ketika Kapten Prowoto melihat ada tiga titik tempat keluar peluru pasukan Gurkha hal ini ditandai adanya asap semacam kabut yang keluar dari antara pepohonan, dan suara senjata Gurkha berbunyi trut…tut…tut…trutututut sembari bapak Tukang Umik menirukan suara senjata yang digunakan pasukan Gurkha.
Pada saat itu semua warga berlarian mencari tempat persembunyian masing-masing, Lalu tentara Indonesia pun melakukan Perlawan membalas penembakan kearah pasukan Gurkha, kurang lebih sekitar 3 jam berlangsung suara senjata sudah mulai berhenti. Dari hasil kontak senjata tersebut dua orang TNI tertembak mati/gugur dalam medan tempur yaitu Kopral Siregar dan Kopral Irfan, dan wakil komandan Pos Mayor Dailan kena tembakan di daerah bokong namun syukurlah masih hidup.
Setelah sekitar tiga hari kontak senjata usai, Kapten Prowoto membawa pasukan Sukuan Tempur untuk melakukan Patroli ke Gunung Butau Tau Lumbis tempat persembunyian pasukan Gurkha. “kami menemukan bekas-bekas galian, klongsong peluru, gergaji, cangkul dan skop milik pasukan Gurkha, namun saat itu kami tidak menemukan munisi/peluru aktif disekitar gunung Butau, perkiraan saya kemungkinan mereka timbun dengan dedauanan, tanah ataupun kami yang tidak melihatnya, dikarenakan posisi kami waktu itu sambil fokus menjaga musuh, siapa tau mereka bersembunyi lalu menembak kami,” ujar bapak Tukang Umik.
Bayangkan sudah sekitar kurang lebih 65 Tahun yang silam baru diketemukan munisi tersebut masih utuh dan aktif, luar biasa warga sudah menemukan munisi tersebut dan kepada Pos Pamtas Lumbis Hulu dari kesatuan Arhanud 16 SBC Makassar. Dia juga mengucapkan terima kasih sudah berperan aktif bekerja sama dengan masyarakat setempat, dalam menjaga, melindungi, mengayomi dan mempertahankan perbatasan serta Patroli keamanan patok perbatasan di Kabupaten Nunukan. Yang dikawatirkan apabila ada warga yang membuat ladang, lalu membakar ladang tersebut bisa-bisa peluru meledak dan nyasar kemana-mana yang bisa membahayakan warga.
Bercerita tentang Konfrontasi 1963-1965 di Tau Lumbis, masing-masing desa yang ada di Lumbis, Lumbis Ogong, Lumbis Pansiangan dan Lumbis Hulu ini ada pejuang pembela Tanah Air Indonesia, kalau kami di Tau Lumbis berjumlah satu peleton dibawah pimpinan Kapten Prowoto dari Kesatuan 518 Brawijaya dan belaiu Prowoto membawahi 32 orang masyarakat sipil di Tau Lumbis menajdi Sukuan Tempur (masyarakat sipil yang dipersentajai) bertugas membantu tentara Indonesia saat perang konfrontasi RI-MLY. Dari jumlah sebanyak 32 orang tersebut satu orang gugur dimedan tempur yaitu Alm. Paling tertembak di Desa Tumantalas saat menagantar logistik beruapa makanan ke Pos Tau Lumbis dan Labang saat itu.
Tukang Umik meneteskan air mata serta menahan isak tangis ketika mengingat cerita teman-teman seperjuangannya sudah almarhum namun belum sempat mendapat perhatian pemerintah dan pengakuan Negara terhadap pejuang, cuma selembar kertas yang ditanda tangan Panglima Tertinggi TNI sebagai piagam penghargaan mereka, dan beberapa tahun silam dari tahun 1980-an sudah mengurus ke Kantor Andimistrasi Veteran di Tarakan namun masih ada sebagian yang belum lolos dan belum ada tanggapan dari Pemerintah Pusat yang menagani Veteran-veteran pejunag konfrontasi yang menjadi Sukuan Tempur saat itu, Tuang Umik selaku Veteran dan Ketua Ranting Pengurus Veteran Lumbis berharap kepada Presiden Joko Widodo, agar Veteran-veteran yang berjuang membela Tanah Air ini didata kembali atau diberi kesempatan untuk mengurus pemberkasan administrasinya bagi yang belum medapatkan pensiunan.
“Kami mempunyai bukti Piagam Penghargaan yang diberikan Negara waktu itu, dan ada nama-nama yang belum mendapatkan pensiunan dan dana kehormatan, kami juga menanyakannya apa kendala sehingga beberapa teman-teman seperjuangan saya belum lulus dalam pemberkasan administrasi keveteranan mereka. Tolong hargai kami sebagai pejuang Tanah Air Indonesia ini, saya boleh mengatakan kita belum merdeka kalau jasa-jasa Veteran Sutuan Tempur yang diperbatasan belum mendapat pengakuan sah dari Negara Republik Indonesia,” Lanjut dia.
Inilah yang menjadi harapan-harapan kami kepada Pemerintah agar diperhatikan, tolong ada pengakuan terhadap mereka, sebagian dari mereka sudah almarhum namun ada anak-anak mereka sebagai ahliwaris untuk meneruskan pengurusan Veteran tersebut, dan jangan berbicara masalah Perbatasan kalau belum mengetahui cerita susah payah, mati hidup kami berjuang mempertahankan wilayah perbatasan Tau Lumbis, Panas, Labang dan Sumentobol.(*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







