KTT – Berhentinya operasional PT Pipit Mutiara Jaya (PMJ) membawa dampak luas bagi masyarakat di Desa Bebatu, Mandan Bikis, dan Sengkong. Warga mengaku kehilangan penopang utama ekonomi, pembangunan, dan kegiatan sosial desa.
Kepala Desa Mandan Bikis, Yuliansyah, menyampaikan bahwa banyak anak muda kini menganggur setelah perusahaan tutup. UMKM yang sebelumnya bergantung pada aktivitas karyawan juga mengalami penurunan pendapatan signifikan. Kondisi ini memicu tekanan ekonomi di tingkat desa.
Di sektor infrastruktur, lanjutnya, desa kesulitan memperbaiki jalan dan akses pertanian karena tidak lagi mendapat bantuan alat berat dari perusahaan. Program bantuan embung untuk penyediaan air bersih pun turut terhenti.
Dampak sosial juga terasa. Program beasiswa untuk siswa dan mahasiswa asli desa tidak lagi berjalan. Dana pembinaan desa sebesar Rp50 juta per tahun serta bantuan kegiatan luar desa ikut terhenti. Warga kini juga kesulitan mendapatkan pinjaman kendaraan atau speedboat untuk rujukan pasien ke Tarakan, sehingga harus menanggung biaya sendiri yang mencapai jutaan rupiah.
Sementara itu, Armansyah menambahkan bahwa dukungan renovasi dan perluasan masjid, termasuk Masjid Al-Muhajir, juga tidak lagi tersedia.
Menanggapi kondisi tersebut, masyarakat menyampaikan harapan kepada pihak-pihak yang berwenang. “Nah harapan kita ke pihak Kejaksaan atau ke pihak teman-teman yang memang berwenang untuk memikirkan kasus ini, lantas harapannya sih agar perusahaan dapat kembali bekerja. Terkhusus sekarang ini, Ibu sebagai pimpinan perusahaan agar dapat kembali berkontribusi di desa. Terkhusus di desa kami ini: Desa Mandan Bikis, Sengkong, maupun Desa Babat,” ungkapnya.
Masyarakat berharap ada solusi dari pihak terkait agar roda ekonomi dan pembangunan desa dapat kembali berjalan tanpa ketergantungan pada satu pihak. (adv)







