benuanta.co.id, TARAKAN – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan investigasi kecelakaan pesawat Pelita PAS 7101 PK-PAA tipe AT802 dilakukan secara independen dengan prinsip ‘no blaming’ atau tanpa mencari pihak yang harus disalahkan.
Investigator Keselamatan Penerbangan KNKT, Voltha Herry menegaskan, tujuan investigasi semata-mata untuk pembelajaran keselamatan penerbangan.
“Kami melakukan investigasi bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah, tetapi untuk mengetahui bagaimana kejadian ini bisa terjadi sehingga dapat dicegah di masa mendatang,” ujarnya, Jumat (20/2/2026)
Ia menjelaskan, pesawat tersebut tidak dilengkapi black box karena sesuai regulasi penerbangan di Indonesia, pesawat dengan bobot di bawah 5.710 kilogram tidak diwajibkan memasang flight data recorder maupun cockpit voice recorder.
Sebagai gantinya, pesawat dilengkapi perangkat Garmin yang dapat merekam jejak penerbangan (flight track), meskipun tidak merekam parameter teknis maupun percakapan di kokpit.
“Kami belum mengetahui apakah perangkat Garmin tersebut masih bisa diambil atau sudah terbakar. Itu akan kami pastikan setelah pemeriksaan di lokasi,” jelasnya.
Tim investigasi KNKT yang terdiri dari dua orang baru tiba pada pagi hari ini, sehingga belum turun ke lokasi pesawat jatuh. Data yang dimiliki masih bersifat awal, diperoleh dari operator dan informasi pendahuluan.
Voltha menargetkan laporan awal terbit satu bulan setelah kejadian, sementara laporan final diperkirakan selesai dalam waktu satu tahun.
BACA JUGA:
Hendak Kembali ke Tarakan, Begini Kronologi Lengkap Jatuhnya Pesawat Pelita Air di Krayan
Cuaca Buruk Diduga Jadi Pemicu Jatuhnya Pelita Air di Perbukitan Krayan
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahruddin Rahmat, mewakili Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, menyatakan pihak bandara siap mendukung penuh investigasi KNKT.
“Kami mengucapkan terima kasih atas koordinasi yang baik dan siap mendukung seluruh proses investigasi,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager Airnav Indonesia Cabang Tarakan, Dheny Purwo Haryanto juga menegaskan kesiapan pihaknya unuk membuka data yang dibutuhkan untuk kepentingan ivestigasi.
“AirNav telah menyiapkan seluruh data dan kebutuhan terkait operasi SAR maupun investigasi. Kami siap mendukung kegiatan investigasi KNKT secara transparan,” ungkapnya.
Dari pihak operator, Safety Director PT Pelita Air Service, Erriza Muslim, memastikan perusahaan akan berkoordinasi penuh dengan KNKT dan Kementerian Perhubungan mengenai musibah tersebut.
“Kami memastikan semua dilakukan investigasi secara transparan. Kami berkoordinasi dengan KNKT dan Departemen Perhubungan untuk memastikan keterbukaan dalam penanganan kecelakaan ini,” tegasnya.
Erriza menambahkan, untuk saat ini fokus utama perusahaan adalah pemulangan jenazah dari Long Bawan ke Tarakan, kemudian ke Jakarta untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan di Bogor. Namun di saat yang sama, Pelita Air siap menyediakan seluruh data operasional yang diperlukan dalam proses investigasi. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







