benuanta.co.id, NUNUKAN – Pesawat Pelita PAS 7101 PK-PAA tipe AT802 yang jatuh di dataran tinggi Krayan ternyata hendak kembali ke Kota Tarakan usai mengantarkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Long Bawan.
Kepala Bandara Yuvai Semaring Long Bawan, Sumariyanto melaporkan kronologi lengkap sebelum terjadi kecelakaan tragis tersebut.
Pesawat berangkat dari Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan (LBW), dengan rute menuju Tarakan dan jadwal keberangkatan pukul 12.10 WITA (04.10 UTC) serta estimasi tiba pukul 13.15 WITA (05.15 UTC).
Durasi penerbangan tersebut seharusnya sekitar 50 menit. Dalam siaran estimasi yang disampaikan pilot, pesawat diperkirakan melintas (beam) wilayah Malinau pada pukul 04.24 UTC atau 12.24 WITA sebelum akhirnya dilaporkan mengalami kecelakaan dalam penerbangan menuju Tarakan.
Sementara, Pilot Pelita Air ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terbakar di dalam badan pesawat. Kondisi ini disampaikan langsung oleh Ketua PAC Gerindra Krayan, Miskanter yang turut berada di ke lokasi kejadian.
“Iya betul pilotnya meninggal dunia, saat kita temukan pilotnya masih duduk di dalam pesawat. Bahkan untuk mengeluarkan korban kita sempat mencungkil seat belt yang masih melekat di tubuh korban,” kata Miskanter.
Diungkapkannya, puing pesawat ditemukan jatuh di empat titik berbeda. “Informasi yang mengatakan korban sempat terjun bebas itu tidak benar. Karena korban kita temukan masih di dalam pesawat pakai sabuk pengaman,” jelasnya.
Miskanter mengatakan, saat ini korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit Pratama Krayan. Rencananya korban akan dikirim ke Kota Tarakan.
“Pesawat ini tadi pagi dari Tarakan ke Long Bawan antar BBM, setelah BBM di turunkan, pesawat hendak bertolak kembali ke Tarakan. Saat itu itulah pesawat ini sempat oleng lalu jatuh dan terbakar,” pungkasnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina






