Kekurangan Ruang Kelas, SMK Negeri 4 Tarakan Manfaatkan Gudang Disekat

benuanta.co.id, TARAKAN – Keterbatasan ruang belajar masih menjadi tantangan utama SMKN 4 Kota Tarakan dalam menjalankan proses kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang berusia relatif muda ini tetap berupaya mengoptimalkan seluruh fasilitas yang tersedia agar proses pendidikan bagi ratusan siswa tetap berjalan maksimal.

Kepala SMKN 4 Tarakan, Aliyas Imran, S. Pd., mengungkapkan fasilitas sekolah secara umum sudah setara dengan sekolah menengah kejuruan lainnya, namun jumlah ruang kelas masih jauh dari kebutuhan ideal. Ia mengatakan sekolah membutuhkan total 24 ruang kelas, sementara saat ini hanya memiliki 17 ruang kelas.

“Kalau di sekolah kami ini fasilitasnya umum sama seperti sekolah-sekolah pada umumnya khususnya untuk SMK, tapi memang kelas kami di sini belum mencukupi, kami itu butuhnya 24 kelas, yang ada ini masih 17 dan itu khusus kelas bukan lab,” ungkapnya, Rabu (18/2/2026).

Ia menjelaskan, keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah memanfaatkan bangunan lama yang sering disebut masyarakat sebagai gudang. Bangunan tersebut disekat dan dimanfaatkan sebagai ruang belajar tambahan.

“Gedung yang disebut gudang oleh orang-orang itu tapi kami tetap menyebutnya gedung yang kami sekat menjadi 10 kelas ditambah dengan kelas-kelas yang ada di belakang laboratorium yang kami jadikan kelas,” jelasnya.

Menurutnya, bangunan tersebut merupakan aset yang dulunya dimiliki STB dan dibeli pemerintah bersama lahan serta bangunan di atasnya. Sejak awal kepindahan sekolah, bangunan tersebut langsung digunakan sebagai ruang belajar karena sekolah belum memiliki fasilitas memadai.

“Gedung yang disebut gudang itu dulunya punya STB yang tanahnya dibeli oleh pemerintah yang dibeli satu paket dengan bangunan dan tanaman yang ada di atasnya, salah satunya gudang itu,” terangnya.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Polisi Cek Kesiapan Pengamanan di Tempat Ibadah
Gudang yang dijadikan ruang kelas di SMK Negeri 4 Tarakan. Total siswa di sekolah ini sekitar 780-an orang. (Foto: Eko Saputra/Benuanta)

Ia menambahkan, sejak awal perpindahan sekolah ke lokasi saat ini, kondisi fasilitas memang masih terbatas sehingga bangunan lama dimanfaatkan secara maksimal. Meski demikian, pembangunan fasilitas baru terus dilakukan secara bertahap.

“Awal-awalnya kami pindah ini belum ada apa-apa sama juga dengan yang saat ini kami tempati, jadi alhamdulillah sudah ada pembangunan pelan-pelan di belakang,” tuturnya.

Aliyas menyebut pembangunan fasilitas dilakukan bertahap karena membutuhkan proses dan perencanaan. Sejumlah ruang baru telah dibangun seperti ruang guru, tata usaha, ruang kepala sekolah, laboratorium, serta toilet siswa.

“Pembangunan itu tidak serta-merta dan bimsalabim, jadi kami tetap komitmen mensukseskan anak bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan rencana pemanfaatan bangunan kantor lama yang berada di pinggir jalan akan dialihkan menjadi perpustakaan serta ruang bimbingan konseling setelah pembangunan selesai.

“Kalau sudah selesai nanti kantor yang di pinggir jalan ini kami pindah ke belakang dan yang kantor ini kami jadikan perpustakaan dan ruang bimbingan konseling,” bebernya.

Terkait bangunan gudang yang saat ini digunakan sebagai kelas, pihak sekolah belum memiliki rencana renovasi besar karena mempertimbangkan efisiensi anggaran. Perbaikan hanya dilakukan jika terjadi kerusakan pada bangunan.

“Kalau untuk gudang itu kami tidak ada rencana renovasi tapi kami perbaiki jika memang ada yang rusak, sebab kalau mau pembangunan ya mau tidak mau itu dimusnahkan jadi sayang sekali dan kalau dibongkar kami mau pakai apa,” imbuhnya.

Baca Juga :  Satlantas Polres Tarakan Tilang 30 Kendaraan, Sasar Knalpot Brong dan Balap Liar

Ia menambahkan anggaran sekolah lebih difokuskan pada pengadaan sarana penunjang pembelajaran dibandingkan renovasi bangunan gudang. “Kalau ada dana kami mending belinya alat untuk kelengkapan penunjang proses belajar mengajar untuk siswa,” lajutnya.

Saat ini seluruh siswa berjumlah 743 orang mengikuti kegiatan belajar pada pagi hari. Ia menjelaskan sebagian siswa sebelumnya mengikuti praktik kerja lapangan dan magang, namun kini seluruh siswa sudah kembali mengikuti pembelajaran reguler.

“Semua siswa masuk pagi, cuma karena SMK ada yang praktik kerja lapangan dan ada yang magang, nah ini sudah selesai jadi siswa yang berjumlah 743 itu semua masuk pagi,” paparnya.

Terkait kelengkapan fasilitas, Aliyas mengakui kondisi sekolah belum sepenuhnya memadai, namun pihaknya tetap berupaya memaksimalkan seluruh sarana yang tersedia. Sekolah juga telah menerima bantuan pemerintah berupa laptop, komputer, dan proyektor.

“Kalau dikatakan cukup ya tidak, kalau menunjang iya, sebab kami berkomitmen untuk mensukseskan anak bangsa jadi apa pun yang ada kami manfaatkan dan maksimalkan,” katanya.

Ia juga menyinggung adanya keluhan beberapa siswa terkait kondisi ruang kelas di bangunan gudang yang tidak memiliki plafon sehingga menimbulkan debu. Namun, menurutnya keluhan tersebut tidak dialami seluruh siswa dan lebih banyak dialami siswa dengan riwayat penyakit tertentu.

“Memang ada beberapa siswa yang sesak nafas tapi itu tidak semua siswa, mungkin ada anak-anak kami yang punya riwayat penyakit asma,” terangnya.

Baca Juga :  FPI Tarakan Dukung Kamtibmas Selama Ramadan, Akan Patroli Keliling

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pihak sekolah memindahkan beberapa siswa ke ruang kelas berpendingin udara penuh yang tersedia di bagian ujung sekolah. “Kami pindahkan kelasnya ke full AC karena kami juga punya kelas yang full AC ada tiga di ujung,” ujarnya.

Ia menyampaikan pengembangan kelas berpendingin udara menjadi salah satu visi jangka panjang sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. “Misi kami ke depan adalah menjadikan SMKN 4 ini sekolah yang nyaman, aman, dan menyenangkan dan salah satu desain kami yaitu sekolah dengan kelas full AC,” jelasnya.

Aliyas juga menjelaskan kendala lain yang dihadapi sekolah adalah percikan air hujan akibat kapasitas talang yang tidak mampu menampung volume air saat hujan deras. Meski sudah beberapa kali diperbaiki, masalah tersebut masih terjadi.

“Masalah kami sudah sekian kali kami benahi memang daya tampung talangannya tidak sesuai dengan volume hujan, kalau hujan deras kadang tempiasnya masuk,” bebernya.

Meski berbagai keterbatasan masih dihadapi, pihak sekolah tetap optimistis pengembangan fasilitas dapat terus berjalan seiring dukungan pemerintah. Ia berharap pembangunan sekolah dapat menyesuaikan identitas sekolah sebagai pusat pendidikan teknologi informasi.

“Kami ingin pembangunan SMKN 4 ini menunjukkan identitas sekolah IT terbesar di Kalimantan Utara, jadi kalo ada pembangunan dari pemerintah ya kami siap. Tapi kami percaya pemerintah sudah berupaya maksimal untuk itu dan tiap pembangunan juga punya tahapnya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *