Jelang Imlek, Permintaan Kue Keranjang di Tarakan Meningkat

benuanta.co.id, TARAKAN – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan kue keranjang di Kota Tarakan mengalami peningkatan signifikan. Kue tradisional yang menjadi simbol keberuntungan dan persatuan keluarga ini selalu diburu masyarakat setiap tahunnya.

Salah satu pembuat kue keranjang di Tarakan, Nenek Joanie (86), mengaku mulai mempersiapkan produksi sejak jauh hari. Pembuatan kue hanya dilakukan menjelang Imlek, sesuai tradisi dan permintaan pasar.

“Kalau sudah dekat Imlek, baru kami bikin,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Pesanan tidak hanya berasal dari wilayah Tarakan, tetapi juga datang dari luar daerah, seperti Surabaya dan Jakarta. Jumlah produksi setiap musim Imlek bisa mencapai ratusan biji, tergantung jumlah pesanan.

Baca Juga :  Penanganan ODGJ Bersajam di Tarakan Belum Optimal

Dalam satu kali produksi, ia menyiapkan sekitar 30 kilogram gula merah dan 37 kilogram tepung ketan. Seluruh proses masih dilakukan secara manual, mulai dari mencuci beras, menumbuk, mengayak, mengaduk, hingga memasak menggunakan kayu bakar.

Ia biasanya mulai bekerja sejak dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA, untuk mengejar target produksi dan pengambilan pesanan pelanggan. Perkerjaan membuat kue pun tidak dilakukan hanya dalam 1 hari, Joanie biasanya membagi proses pembuatan menjadi beberapa hari. Namun, yang memakan waktu paling banyak yaitu saat memasak adonan.

Adonan yang sudah tercampur dimasak dengan cara dikukus menggunakan tungku api besar yang dinyalakan menggunakan kayu bakar khusus selama kurang lebih 12 jam hingga masak menjadi kue. Selanjutnya, kue di dinginkan lalu dibungkus dan diberi label dan siap untuk jual.

Baca Juga :  Jaga Tradisi Kue Keranjang Imlek di Tarakan ala Nenek Joanie

Harga kue keranjang yang dipasarkan dibandrol dengan harga yang bermacam-macam sesuai ukuran. Joanie menjual kue keranjang mulai dari ukuran 2 ons Rp25 ribu, ukuran 6 ons Rp60 ribu dan Rp75 ribu  (bungkus daun) serta uran 1 kilogram Rp100 ribu dan Rp120 ribu (bungkus daun).

Dengan volume produksi yang tinggi, omzet yang dihasilkan setiap musim Imlek dapat mencapai puluhan juta rupiah.

“Pelanggan dari dulu masih datang pesan sampai sekarang,” tuturnya.

Baca Juga :  Jelang Imlek dan Ramadan, Harga Bahan Pokok di Pasar Gusher Stabil

Meski saat ini banyak produsen yang menggunakan mesin modern, Joanie tetap mempertahankan metode tradisional demi menjaga kualitas rasa dan tekstur kue.

“Kalau pakai alat, kurang bagus. Pakai tangan lebih enak,” ucapnya.

Saat ini, usaha tersebut mulai dilanjutkan oleh anak-anaknya, mengingat usia Joanie yang semakin lanjut. Namun, sistem produksi dan kualitas tetap dipertahankan selama tiga generasi agar kepercayaan konsumen tidak berubah.

Keberadaan produsen kue keranjang tradisional di Tarakan menjadi bagian penting dalam mempertahankan tradisi masyarakat Tionghoa budaya, sekaligus mempertahankan kuliner khas Imlek di tengah perkembangan zaman. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *