Jaga Tradisi Kue Keranjang Imlek di Tarakan ala Nenek Joanie

benuanta.co.id, TARAKAN – Semarak perayaan Tahun Baru Imlek, kue keranjang tetap menjadi salah satu ikon penting bagi masyarakat Tionghoa. Kue berbahan dasar gula merah dan tepung ketan ini tidak hanya menjadi sajian khas, tetapi juga mengandung makna spiritual dan budaya.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, kue keranjang pada awalnya digunakan sebagai persembahan kepada Dewa Tungku (Cau Kun Kong), agar menyampaikan laporan yang baik kepada Raja Langit (Giok Hong Siang Te). Selain itu, bentuknya yang bulat melambangkan persatuan, keharmonisan, dan kebulatan tekad keluarga dalam menyongsong tahun baru.

Baca Juga :  Cegah Konflik Lahan, Menhut Dorong Percepatan Sertifikasi Tambak Petani di Desa Liagu

Di Kota Tarakan, pembuat kue keranjang tradisional kini semakin jarang. Salah satunya adalah Nenek Joanie (86), yang telah menekuni usaha ini selama puluhan tahun.

Di dapur sederhana rumahnya, Joanie masih mempertahankan cara pembuatan tradisional, mulai dari menumbuk beras ketan menggunakan lesung, mengayak tepung secara manual, mengaduk adonan dengan tangan, hingga memasak menggunakan kayu bakar khusus.

“Mama dulu yang ajarin saya. Setelah menikah, umur sekitar 30 tahun, saya mulai bikin pakai lesung,” ujar Joanie, Selasa (10/2/2025).

Resep yang digunakan merupakan warisan turun-temurun dari sang ibu. Ia mulai memproduksi kue keranjang secara rutin setelah menikah untuk membantu perekonomian keluarga. Dalam prosesnya, anak-anaknya juga dilibatkan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Baca Juga :  Dishut Sebut Revitalisasi KKMB Tarakan Terganjal Administrasi Lahan

“Dulu anak-anak saya bantu tumbuk dan ayak. Gantian pakai kayu,” katanya.

Menurutnya, bahan baku yang digunakan tidak pernah berubah sejak awal, yakni gula merah dan beras ketan asli tanpa campuran. Adonan pun tetap diaduk menggunakan tangan agar menghasilkan tekstur yang lembut dan aroma yang khas.

“Kalau pakai alat, rasanya beda. Pakai tangan lebih linyut dan harum,” tuturnya.

Baca Juga :  Penanganan ODGJ Bersajam di Tarakan Belum Optimal

Selain itu, proses memasak masih menggunakan kayu bakar khusus. Ia menilai penggunaan kayu memberikan cita rasa berbeda dibandingkan kompor gas.

Selama lebih dari empat dekade, Joanie telah melayani pelanggan dari berbagai daerah, seperti Tarakan, Tanjung Selor, Surabaya, hingga Jakarta. Pelanggan lama masih setia memesan setiap menjelang Imlek.

Kini, karena faktor usia, Joanie mulai menyerahkan usaha tersebut kepada anak-anaknya. Meski begitu, ia berharap tradisi pembuatan kue keranjang secara tradisional tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya keluarga. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *