benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kotoran tikus, terutama di wilayah yang dinilai rawan.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Rinny Faulina, mengatakan leptospirosis dapat menyebar melalui lingkungan yang tercemar.
“Penularannya melalui kotoran tikus. Biasanya terjadi di lingkungan yang kurang bersih, terutama di sekitar parit, got, atau tempat lembap,” ujarnya.
Menurutnya, pencegahan utama adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga kebersihan lingkungan rumah. Ia menegaskan, lingkungan harus bebas dari kotoran hewan, sarang tikus bahkan, masyarakat harus rutin bekerja bakti.
Ia juga mengimbau warga untuk menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan lingkungan, terutama ketika membersihkan parit atau got.
“Kalau kerja bakti sebaiknya pakai sepatu boot dan pelindung, apalagi kalau masuk ke parit,” katanya.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, lemas, atau keluhan lain yang tidak biasa.
Ia menjelaskan, leptospirosis dapat berbahaya jika terlambat ditangani. Pada kondisi berat, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan hati hingga ginjal.
“Kalau terlambat ditangani, bisa sampai penyakit kuning dan masuk ke ginjal. Bahkan bisa menyebabkan kematian,” ungkapnya.
Dinkes Tarakan secara rutin melakukan surveilans sentinel leptospirosis dengan menangkap tikus di sejumlah wilayah yang menjadi lokus pengawasan. Pemeriksaan dilakukan bekerja sama dengan Balai Laboratorium Kesehatan.
Beberapa wilayah yang pernah menjadi lokus pemeriksaan antara lain Karang Balik, Kampung 4, Kampung 6, dan Mangkurungan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tikus yang menjadi host atau pembawa kuman leptospirosis.
Berdasarkan data Dinkes Tarakan, kegiatan sentinel dilakukan setiap tahun di enam puskesmas. Hampir seluruh wilayah kerja ditemukan tikus yang positif mengandung kuman leptospirosis.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes Tarakan melakukan tiga langkah utama, seperti, Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) atau promosi kesehatan kepada masyarakat, surveilans di wilayah yang positif trap untuk deteksi dini terhadap warga yang bergejala maupun tanpa gejala, pemberian pengobatan apabila ditemukan kasus.
Rinny berharap, melalui upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran masyarakat, kasus leptospirosis di Kota Tarakan dapat terus ditekan.
“Yang penting masyarakat peduli kebersihan dan tidak menunda berobat kalau sakit,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







