benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Upaya Kalimantan Utara menuju swasembada pangan masih menghadapi tantangan besar. Hingga saat ini, produksi beras lokal baru mampu memenuhi sekitar 40 persen dari total kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Heri Rudiyono, mengungkapkan bahwa kebutuhan beras di wilayah ini mencapai sekitar 83 ribu ton per tahun, sementara produksi dalam daerah masih berada di kisaran 35 ribu hingga 40 ribu ton.
“Kebutuhan kita 83 ribu ton per tahun. Produksi kita baru sekitar 35 ribu sampai 40 ribu ton. Artinya, masih di angka 40 persen,” kata Heri, Kamis (5/2/2026).
Ia menyebutkan, kekurangan pasokan sekitar 60 persen masih harus dipenuhi dari luar daerah. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota.
“Yang 60 persen ini masih menjadi pekerjaan rumah. Provinsi mendorong dan memfasilitasi, tapi pelaksana di lapangan ada di kabupaten,” jelasnya.
Lebih jauh, untuk meningkatkan produksi, DPKP Kaltara terus mengupayakan pembukaan lahan sawah baru melalui program cetak sawah. Di Tahun 2025, pemerintah telah menargetkan pembukaan sekitar 1.000 hektare, dan kembali mengusulkan target yang sama untuk tahun 2026.
“Target saya kalau bisa seribu hektare dulu. Ini masih kita perjuangkan, karena harus kita usulkan ke pusat,” ujarnya.
Namun, Heri mengakui ketersediaan lahan saat ini semakin terbatas, terutama di wilayah perkotaan.
“Di Tarakan sudah hampir tidak ada lagi lahan. Sekarang sawah makin jauh dari penduduk, lokasinya makin ke pedalaman,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pembukaan lahan harus dibarengi dengan kesiapan petani agar lahan yang dicetak benar-benar produktif.
“Kalau kita cetak sawah tapi tidak ditanam, saya tidak mau. Harus ada orangnya, mau menanam, lahannya aman, dan wajib tanam,” tegasnya.
Selain perluasan lahan, peningkatan minat petani menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong ketahanan pangan daerah. Menurut Heri, kondisi sawah di Kaltara berbeda dengan daerah lain seperti Jawa dan Sulawesi.
“Kalau di Jawa dan Sulawesi, sawahnya sudah lama terbentuk. Kalau kita ini rata-rata masih sawah baru, dari nol,” katanya.
Untuk itu, DPKP Kaltara juga mulai mengarah pada modernisasi pertanian guna meningkatkan efisiensi dan hasil produksi.
“Sekarang kita masuk ke pertanian modern. Satu orang bisa mengelola sampai lima hektare. Ini yang kita dorong terus,” ujarnya.
Menurut Heri, saat ini, Kabupaten Bulungan masih menjadi daerah yang paling mendukung produksi pangan di Kaltara. Sementara kebutuhan beras di wilayah perkotaan, seperti Tarakan dengan jumlah penduduk sekitar 250 ribu jiwa, belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi lokal.
“Bulungan masih menjadi andalan kita. Kebutuhan Tarakan belum seluruhnya bisa kita layani dari produksi sendiri,” jelas Heri.
Walaupun demikian, ia tetap optimistis Kaltara mampu mewujudkan kemandirian pangan dalam beberapa tahun ke depan.
Optimisme Menuju Swasembada
Berdasarkan perhitungan luas lahan dan potensi produksi, Heri menargetkan swasembada pangan dapat tercapai pada tahun 2027.
“Kalau hitungannya sesuai rencana, 2027 harus sudah selesai. Kita targetkan bisa 100 persen,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut membutuhkan kerja keras, konsistensi program, serta dukungan dari semua pihak.
“Saya selalu berpikir, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak. Dengan kerja sama dan kemauan, saya yakin kita bisa,” tutupnya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli







