Kunjungi Mangrove Kaltara, Menhut Tekankan Urgensi Mangrove untuk Kehidupan

benuanta.co.id, TARAKAN– Mempengringati Lahan Basah Sedunia yang diperingati pada 2 Februari lalu, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menekankan urgensi lahan basah atau mangrove bagi kehidupan masyarakat. Hal tersebut ia ungkapkan saat berkunjung ke Kawasan Konservasi Magrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Jumat (6/2/2026).

Pada kesempatan itu, ia dengan tegas mengatakan lahan basah atau mangrove merupakan rumah bagi biodiveristas atau keanekaragaman hayati yang mencakup gen, spesies, hingga ekosistem.

Tak hanya itu, lahan basah juga merupakan sumber ekonomi bagi masyarakat pesisir. Sebagai negara yang memiliki hutan mangrove terbesar ke dua, Indonesia juga merupakan pemasok oksigen terbesar dengan adanya lahan basah ini.

“Untuk penyerapan karbon yang sangat tinggi sekali (lahan basah). Alhamdulillah kita diberikan Tuhan Lahan basah yang sangat luas 23% dari total ekosistem mangrove dunia,” ujarnya.

Baca Juga :  Angkatan Kerja Naik, Pengangguran di Kaltara Turun

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bekerjasama dan berkolaborasi baik di nasional maupun internasional. Dirinya mengingatkan hutan mangrove tidak hanya menjadi ekoturism tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan masayakat.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kaltara, Dr. Zainal Arifin Paliwang yang telah bekerjasama untuk untuk menghidupkan lahan basah yang ada di Kaltara.

Sementara itu, Head of Development Cooperation and Counsellor of the Embassy of Canada in Indonesia, Alice Birnbaum yang merupakan mitra pemerintah Indonesia dalam menangani hutan mangrove mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk melindungi dan memulihkan ekosistem untuk masyarakat pesisir.

“Hari ini menjadi tonggak yang penting bagi proyek NASCLIM. Kita di sini hadir dengan Bapak Menteri Kehutanan, dan juga dengan Bapak Gubernur dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Sekaligus ini menjadi babak baru bagi kerja sama untuk keberlanjutan,” jelasnya.

Baca Juga :  Menhut dan Gubernur Kaltara Sebut Mangrove Meningkatkan Produktivitas Tambak

Proyek NASCLIM (Nature-based Solutions for Climate-Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes) merupakan proyek yang jelas dan ambisius dalam menperkuat kerangka pengolahan mangrove secara kolaboratif, mendorong masyarakat dan pebisnis untuk melindungi dan mengembalikan mangrove.

Selain itu, proyek ini juga memperkenalkan solusi berbasis alam yang inovatif untuk budidaya udang, dan juga untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan, sekaligus menghidupkan kembali ekosistem pesisir.

“Kami tahu bahwa para petambak atau petani belajar dengan mata mereka. Itulah sebabnya proyek NASCLIM menunjukkan melalui demonstrasi bahwa kita tidak perlu mencederakan bisnis dan mengorbankan kehidupan untuk melindungi mangrove,” ungkapnya.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltara Buka Seleksi Guru dan Kepala Sekolah Unggul Garuda

Ia menegaskan, ini adalah jenis perkembangan inklusif yang membangun masyarakat yang lebih kuat. Tentu saja, semua ini tidak akan mungkin tercapai tanpa dukungan dan keterlibatan sektor swasta. Peran masyarakat sangat penting dalam membangun rantai nilai akuakultur dan perikanan yang berkelanjutan, serta membuka dampak ekonomi jangka panjang yang inklusif dan tangguh.

“Tentunya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan dampak yang berkelanjutan dan menjaga masa depan ekosistem mangrove Indonesia. Selain pemerintahan daerah, dan pemerintahan lokal, proyek ini dapat membantu anda dan semua pekerja untuk mengembangkan penyelamatan mangrove, rehabilitasi, dan pembangunan pantai yang berkelanjutan menggunakan penyelesaian berdasarkan alam,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *