Jejak Sejarah Kelenteng Tertua di Tarakan, Dirawat Secara Gotong Royong

benuanta.co.id, TARAKAN – Kelenteng Toa Pek Kong merupakan kelenteng tertua di Kota Tarakan.Banguna ini menjadi salah satu peninggalan sejarah penting bagi masyarakat Tionghoa.

Bangunan tempat ibadah tersebut telah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan menjadi saksi perkembangan Kota Tarakan dari masa ke masa.

Sebelum menjadi bangunan permanen seperti sekarang, kelenteng ini awalnya hanya terbuat dari kayu. Renovasi besar pertama dan satu-satunya dilakukan pada tahun 1986.

“Baru satu kali renovasi, tahun 1986. Sebelumnya masih kayu,” ujar Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Kota Tarakan sekaligus pengurus Kelenteng Toa Pek Kong, Ayi Dianto, Senin (2/2/2026).

Pembangunan awal kelenteng ini didukung oleh sumbangan masyarakat Tiongho yang bermukim di Tarakan. Sejak awal berdiri, lokasi kelenteng tidak pernah berpindah.

Kelenteng ini juga menjadi satu-satunya kelenteng di Kota Tarakan. Sementara tempat ibadah umat Buddha lainnya berupa vihara yang baru berkembang kemudian. Pada masa awal, Tarakan hanya memiliki kelenteng, sementara vihara belum ada. Sementara itu, masjid dan gereja telah lebih dulu berdiri.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Catat Satu Kasus Leptospirosis di Awal 2026

“Kalau kelenteng, di Tarakan cuma satu. Yang lain itu vihara,” ujarnya.

Keberadaan kelenteng tidak terlepas dari sejarah kedatangan para leluhur yang datang ke Tarakan untuk berdagang dan menetap. Dari generasi ke generasi, tempat ibadah ini terus dijaga dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Namun, terkait tahun pasti pendirian awal, pengurus mengaku tidak lagi mengetahui secara pasti, karena bangunan tersebut telah ada sebelum generasi mereka lahir.

Sebagai salah satu identitas warga Tionghoa di Tarakan, kelenteng ini dirawat secara gotong royong oleh para pengurus dan masyarakat. Saat ini, kepengurusan dijalankan oleh seorang ketua bersama tiga orang anggota.

Baca Juga :  Ingin Masyarakat Fokus Ibadah, Satlantas Tarakan Siapkan Pengamanan Lalu Lintas di Bulan Ramadan

Pengurus secara rutin membersihkan dan menjaga kelenteng setiap hari. Bantuan perawatan juga berasal dari sumbangan masyarakat Tarakan. Penggalangan dana dilakukan melalui komunikasi antarumat.

Menurut pengurus, masyarakat selalu terbuka memberikan bantuan, karena menyumbang ke tempat ibadah diyakini membawa keberkahan.

Selain digunakan saat perayaan Imlek, kelenteng ini juga aktif digunakan pada tanggal 1 dan 15 dalam penanggalan Tionghoa. Berbagai kegiatan adat dan keagamaan juga rutin dilaksanakan di tempat ini, mulai dari selamatan rumah, kelahiran, hingga perkawinan.

Bahkan, prosesi pernikahan juga langsung dilaksanakan di kelenteng oleh pengurus. Tanda pernikahan tersebut masih tersimpan hingga kini.

Kelenteng ini juga menjadi pusat spiritual masyarakat. Setiap warga yang hendak menempati rumah baru atau membangun rumah biasanya datang terlebih dahulu untuk beribadah dan meminta doa restu.

Baca Juga :  Penataan PKL Sekitar Bandara Juwata Dikaji, Pedagang Minta Kebijakan Jam Operasional

Tempat ibadah ini dibuka selama 24 jam untuk masyarakat. Para pengurus berjaga secara bergantian setiap hari. Saat ini, salah satu pengurus yang aktif bertugas merupakan penerus dari almarhum Pak Suwarno, yang sebelumnya digantikan oleh Pak Hendi.

Terkait perawatan bangunan, pengurus menyebut tidak ada rencana renovasi besar dalam waktu dekat. Namun, perawatan ringan terus dilakukan. Beberapa waktu lalu, penggantian keramik di sisi bangunan mendapat bantuan dari Wali Kota Tarakan.

Ke depan, pengurus berencana mengajukan bantuan untuk pengecatan ulang ornamen naga yang telah berusia puluhan tahun sejak renovasi 1986. Hingga kini, ornamen tersebut belum pernah dicat ulang dan membutuhkan penanganan khusus dari seniman profesional.

“Naga-naga itu belum pernah dicat ulang sejak 1986. Perlu orang seni khusus,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *