benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mencatat satu kasus leptospirosis pada awal tahun 2026. Pasien saat ini telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit dan kondisinya mulai membaik.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Rinny Faulina, mengatakan pasien sudah menjalani pengobatan sesuai prosedur medis.
“Sekarang pasien sudah ditangani di rumah sakit dan sudah dilakukan pengobatan,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Selain penanganan medis, Dinkes Tarakan juga melakukan surveilans dan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber penularan. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas Puskesmas melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di wilayah tempat tinggal pasien.
“Kami melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui asal-muasal pasien terpapar, bagaimana lingkungan tempat tinggalnya, serta riwayat aktivitasnya,” jelasnya.
Petugas Puskesmas Mamburungan juga melakukan wawancara langsung dengan pasien dan keluarganya, termasuk menggali informasi terkait riwayat penyakit, pekerjaan, serta kondisi lingkungan sekitar rumah.
Selain itu, Dinkes Tarakan melakukan pemeriksaan terhadap hasil diagnosis dokter dan laboratorium. Pemeriksaan kontak juga dilakukan terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien.
“Alhamdulillah, tidak ditemukan penularan. Pasien hanya tinggal dengan anaknya, dan setelah diperiksa anaknya dalam kondisi sehat,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes Tarakan memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada keluarga pasien dan masyarakat sekitar mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Rinny menyebutkan, sepanjang tahun 2026 baru ditemukan satu kasus leptospirosis di Kota Tarakan.
Berdasarkan data Dinkes Tarakan, kasus leptospirosis tercatat satu kasus pada tahun 2024 dan meningkat menjadi lima kasus pada tahun 2025.
Selain itu, Dinkes Tarakan rutin melakukan kegiatan sentinel leptospirosis setiap tahun di enam puskesmas melalui pemasangan perangkap tikus (trap) dan pemeriksaan laboratorium.
“Hampir di semua wilayah kerja enam puskesmas, ditemukan tikus yang positif mengandung kuman leptospirosis,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







