benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat terjadinya deflasi pada Januari 2026, setelah sebelumnya mengalami inflasi pada Desember 2025. Deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month ini dipengaruhi oleh turunnya tarif angkutan udara, sementara inflasi tahunan tercatat sebesar 4,31 persen akibat fenomena low base effect.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, menyampaikan setelah Kota Tarakan mengalami inflasi pada Desember 2025, memasuki awal tahun 2026 justru tercatat mengalami deflasi. Komoditas angkutan udara menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,32 persen, sementara emas perhiasan kembali memberikan andil inflasi sebesar 0,26 persen.
“Dengan capaian tersebut, inflasi year to date dan year on year pada Januari 2026 masing-masing tercatat sebesar -0,15 persen dan 4,31 persen. Mengacu pada angka inflasi year on year tersebut, apabila pola inflasi pada sisa bulan 2026 sama seperti tahun 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 4,31 persen,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Ia mengatakan, tingginya inflasi year on year pada Januari 2026 yang berada di luar rentang target nasional (2,5 persen ± 1) dipengaruhi oleh fenomena low base effect. Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menyebabkan deflasi sebesar 1,87 persen. Hilangnya andil deflasi tersebut, serta masih adanya dampak normalisasi tarif listrik, memengaruhi perhitungan inflasi tahunan pada Januari 2026.
Pada Januari 2026, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar secara month to month dengan andil 0,26 persen. Disusul oleh kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, kelompok pendidikan, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, masing-masing sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi menjadi peredam utama inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,23 persen, bersama kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,18 persen. Selanjutnya diikuti oleh kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.
“Secara month to month dengan andil sebesar 0,26 persen. Selanjutnya diikuti oleh kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, kelompok pendidikan, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen,” ungkapnya.
Kelompok transportasi menjadi peredam utama inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,23 persen, bersama kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,18 persen. Disusul oleh kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.
Adapun sepuluh komoditas yang dominan memberikan andil inflasi month to month pada Januari 2026 antara lain emas perhiasan sebesar 0,2643 persen, sepeda motor 0,0539 persen, angkutan laut 0,0289 persen, tomat 0,0179 persen, bimbingan belajar 0,014 persen, sewa rumah 0,0098 persen, telur ayam ras 0,008 persen, gado-gado 0,0077 persen, bayam 0,0074 persen, serta mobil 0,0071 persen.
Sedangkan sepuluh komoditas yang dominan memberikan andil deflasi month to month pada Januari 2026 meliputi angkutan udara sebesar minus 0,3172 persen, cabai rawit minus 0,0436 persen, daging ayam ras minus 0,0435 persen, bawang merah minus 0,0348 persen, ikan bandeng minus 0,0282 persen, jagung manis minus 0,0202 persen, ikan kembung minus 0,0196 persen, televisi berwarna minus 0,0182 persen, kangkung minus 0,0133 persen, serta cabai merah minus 0,0112 persen. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







