benuanta.co.id, TARAKAN – Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang belakangan ramai dibicarakan di Kota Tarakan, termasuk yang melibatkan anak-anak usia sekolah, menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Dari sudut pandang psikologis, isu ini dinilai perlu disikapi secara komprehensif dengan pendekatan edukatif, preventif, serta penguatan nilai-nilai keluarga.
Konselor HIV Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Indah Wahyuni, S.Keb, menilai fenomena LGBT tidak dapat dipahami secara sederhana atau dilihat dari satu sudut pandang saja. Menurutnya, ada berbagai faktor yang saling berkaitan dalam membentuk perilaku seseorang.
“Kalau dari sisi psikologis, itu bisa muncul dari diri sendiri dan juga dari lingkungan,” ungkapnya, Rabu (21/1/2026).
Indah menjelaskan lingkungan pergaulan memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan perilaku anak, terutama pada usia remaja yang masih mencari jati diri. Pengaruh teman sebaya dinilai sangat kuat jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat.
“Lingkungan itu bagian yang sangat berpengaruh, apalagi kalau pengawasan dari keluarga kurang,” jelasnya.
Selain lingkungan, faktor keluarga juga menjadi perhatian penting dalam pembentukan karakter anak. Indah menekankan bahwa orang tua memiliki peran utama dalam mengarahkan dan membimbing anak.
“Pola asuh orang tua sangat berpengaruh, jadi orang tua harus tetap memantau anak-anaknya,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kondisi tertentu dalam keluarga yang dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Menurutnya, tekanan atau situasi keluarga bisa berdampak pada perkembangan mental remaja. “Misalnya dia satu-satunya anak laki-laki sementara kakak atau adiknya perempuan semua, itu juga bisa berpengaruh,” terangnya.
Selain peran keluarga dan lingkungan, Indah menilai penguatan nilai keimanan juga penting dalam membentuk karakter anak. Nilai spiritual dinilai dapat menjadi benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh sosial. “Keimanan juga harus diperkuat, karena itu bagian dari pembentukan karakter dan kontrol diri anak,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan, Indah mengingatkan agar masyarakat tidak memiliki pandangan yang keliru terkait risiko penularan HIV. Ia menegaskan bahwa risiko tersebut tidak bisa dipersempit hanya pada kelompok tertentu saja. “Sekarang itu tidak bisa kita anggap hanya perempuan atau hanya laki-laki yang berbahaya,” katanya.
Ia menambahkan HIV dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin maupun orientasi seksual. Oleh karena itu, edukasi kesehatan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. “Perempuan bisa terkena, laki-laki juga bisa, jadi memang tidak bisa dikotak-kotakkan,” tuturnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tarakan, kelompok lelaki seks dengan lelaki masih tercatat sebagai kelompok dengan jumlah kasus HIV terbanyak di daerah tersebut. Kondisi ini menjadi fokus dalam program pencegahan dan pengendalian HIV. “Untuk Tarakan sendiri, kasus paling banyak memang dari kelompok LSL,” imbuhnya.
Indah berharap isu LGBT yang ramai diperbincangkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat edukasi kesehatan, peran keluarga, sekolah, serta pembinaan nilai keimanan bagi anak-anak dan remaja. “Intinya semua pihak harus ikut berperan agar anak-anak terlindungi dari risiko kesehatan,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







