benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan Kota Tarakan mencatat jumlah kasus baru HIV pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, penurunan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi penularan di masyarakat karena dipengaruhi oleh jumlah pemeriksaan HIV yang dilakukan sepanjang tahun berjalan.
Pengelola Program HIV Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Indah Wahyuni, S.Keb, menjelaskan sepanjang tahun 2025 terdapat 103 kasus HIV baru yang terdeteksi dari ribuan warga yang menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui berbagai layanan kesehatan di Kota Tarakan.
“Untuk tahun 2025 itu ada sekitar 103 pengidap HIV dari kurang lebih 13.617 yang diperiksa,” ungkapnya, Rabu (21/1/2026).
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah kasus baru HIV di Tarakan memang menunjukkan penurunan. Namun, Indah menekankan bahwa angka tersebut perlu dilihat secara komprehensif dengan mempertimbangkan cakupan pemeriksaan.
“Tahun 2024 itu ada 118 kasus dari pemeriksaan sekitar 13 ribu sekian, jadi memang pemeriksaannya lebih banyak,” jelasnya.
Indah menegaskan turunnya angka kasus secara statistik tidak serta-merta menandakan menurunnya tingkat penularan HIV di masyarakat. Ia menyebutkan bahwa keterbatasan jumlah skrining turut memengaruhi temuan kasus. “Dilihat secara angka memang turun, tetapi pemeriksaannya yang mempengaruhi karena di 2025 ini lebih sedikit yang diperiksa,” katanya.
Selain mencatat kasus baru, Dinas Kesehatan Kota Tarakan juga mendata kondisi lanjutan dari para pengidap HIV yang teridentifikasi sepanjang tahun 2025. Dalam catatan tersebut, terdapat kasus kematian yang masih menjadi perhatian serius.
“Kemarin dari 103 kasus itu ada 9 yang meninggal,” paparnya.
Dengan adanya kasus kematian tersebut, jumlah pengidap HIV yang masih hidup dan membutuhkan pendampingan lanjutan tercatat sebanyak 94 orang. Indah menjelaskan bahwa tidak semua pengidap HIV langsung bersedia menjalani pengobatan.
“Dari 94 itu, ada 72 yang saat ini bersedia untuk ARV dan melakukan pengobatan,” imbuhnya.
Dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV, Dinas Kesehatan Kota Tarakan juga memetakan kelompok yang paling berisiko terpapar. Kelompok ini dikenal sebagai populasi kunci yang memerlukan perhatian khusus. “Kelompok yang paling berisiko itu populasi kunci, ada WPS, LSL, waria, dan penasun,” bebernya.
Dari keempat populasi kunci tersebut, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) tercatat sebagai penyumbang kasus terbanyak di Kota Tarakan sepanjang 2025. Kondisi ini menjadi fokus dalam strategi penanggulangan HIV ke depan. “Untuk di Tarakan sendiri paling banyak itu LSL dengan 30 kasus, jadi itu yang terbesar,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







