benuanta.co.id, TARAKAN – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tarakan mulai mengarahkan pelayanan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) menuju sistem digital Inaportnet, khususnya pada pelayanan speedboat di Pelabuhan SDF Tarakan yang memiliki tingkat mobilitas penumpang sangat tinggi.
Penilik Kelayaklautan KSOP Kelas II Tarakan, Fahmi, menjelaskan penerapan Inaportnet mensyaratkan seluruh dokumen kapal bersifat permanen dan lengkap. Namun, hingga saat ini sebagian besar speedboat masih terkendala kelengkapan administrasi. “Hampir 80 persen speedboat belum bisa masuk Inaportnet karena dokumennya belum permanen,” ungkapnya, Senin (19/1/2026).
Menurut Fahmi, sistem Inaportnet tidak lagi mengenal dokumen sementara sehingga kapal harus benar-benar siap secara administratif. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator speedboat di Tarakan. “Kalau sudah Inaportnet, semua dokumen harus permanen,” ujarnya.
Ia menyebutkan demi menjaga kelancaran pelayanan kepada masyarakat, KSOP Tarakan saat ini masih menerapkan pelayanan SPB secara manual. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan waktu keberangkatan kapal. “Pelayanan SPB di SDF ini waktunya sangat singkat,” katanya.
Fahmi menambahkan keberangkatan speedboat di Tarakan kerap berlangsung dalam rentang waktu 15 hingga 20 menit. Dengan waktu yang sangat terbatas, gangguan jaringan internet berpotensi menghambat pelayanan. “Kadang jaringan juga tidak stabil,” imbuhnya.
Meski demikian, KSOP Tarakan tetap mendorong percepatan adaptasi ke sistem digital. Fahmi menyebut pihaknya mulai melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada pengurus speedboat agar siap menggunakan Inaportnet. “Kami mulai latih pengurus speedboat,” jelasnya.
Ia menilai karakteristik Pelabuhan Tarakan berbeda dengan pelabuhan lain karena menjadi pelabuhan sentral dengan banyak rute tujuan. Hal ini menuntut kesiapan sistem dan sumber daya manusia yang lebih matang. “Tarakan ini sentral dengan banyak tujuan,” bebernya.
Fahmi berharap ke depan pelayanan SPB di Pelabuhan SDF dapat sepenuhnya berbasis Inaportnet tanpa mengurangi kecepatan dan kualitas layanan. Menurutnya, digitalisasi harus sejalan dengan kesiapan lapangan. “Ini butuh proses dan adaptasi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







