benuanta.co.id, TARAKAN – Rumput laut di Kota Tarakan kembali anjlok dengan harga jual Rp10 ribu per kilogram setelah sebelumnya menyentuh angka Rp11 ribu per kilogram. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mengupayakan skema penjualan langsung dari pembudidaya ke pabrik pengolahan agar harga di tingkat masyarakat pesisir dapat lebih kompetitif.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Perikanan Kota Tarakan, Husna Ersant Dirgantara, menyebut selain kualitas rumput laut, salah satu penyebab rendahnya harga adalah panjangnya jalur pemasaran yang masih bergantung pada pengepul.
“Harapannya pembudidaya bisa langsung menjual ke pabrik, bukan lagi ke pengepul. Kalau rantainya dipangkas, harga bisa lebih baik,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Upaya tersebut mulai dicoba melalui pengiriman rumput laut langsung ke PT Biota Laut Ganggang di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Agrobisnis. Skema ini dinilai mampu memberikan harga yang lebih stabil dibandingkan pola lama.
Ia menjelaskan, harga yang diterima pembudidaya sangat bergantung pada kadar air dan kebersihan rumput laut. Produk yang masih lembab umumnya hanya dihargai sekitar Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilogram.
“Kalau kualitasnya baik dan kering, harganya tentu berbeda. Ini yang terus kita dorong ke pembudidaya,” ungkapnya.
Selain pengiriman kering, peluang pengolahan rumput laut basah juga tengah dijajaki melalui kerja sama dengan perusahaan asal Bali yang memanfaatkan rumput laut sebagai bahan pupuk dan bahan bakar nabati (biofuel) yang nantinya akan di ekspor ke India.
Pihaknya pun telah memberikan penawaran kerjasama dengan Perumda terkait pengolahan tersebut agar harga rumput laut di Tarakan bisa kembali stabil.
“Kalau basah justru lebih cepat perputaran uangnya, karena panen langsung dijual tanpa proses pengeringan. Panen langsung dalam kondisi basah langsung masuk pabrik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







