MUI Tarakan Tekankan Penguatan Iman dan Peran Keluarga Cegah Penyimpangan Moral

benuanta.co.id, TARAKAN – Menguatnya perhatian publik terhadap berbagai persoalan moral di kalangan generasi muda mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan menegaskan kembali pentingnya penguatan nilai keagamaan, keluarga, dan lingkungan sosial sebagai benteng utama.

Di tengah sorotan terhadap sejumlah kasus yang muncul belakangan ini, tokoh agama menilai pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial. Fondasi iman dan akhlak sejak dini disebut menjadi kunci agar anak dan remaja memiliki pegangan yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh.

Ketua MUI Tarakan, Abdul Samad menyampaikan, ajaran agama harus dihadirkan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai nilai hidup yang membentuk karakter. Menurutnya, masjid, majelis taklim, dan lembaga pendidikan keagamaan perlu kembali menjadi pusat pembinaan moral umat.

Baca Juga :  Target Meningkat, Pemprov Kaltara Kejar Pajak Alat Berat

“Agama tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi harus ditanamkan sebagai fondasi kehidupan. Dari situlah iman dan akhlak anak-anak kita tumbuh,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Ia menekankan, dakwah juga harus dijalankan dengan pendekatan yang arif. Selain itu, pesan-pesan moral, perlu disampaikan secara tegas dalam prinsip, tetapi tetap santun agar dapat diterima dan membimbing, bukan menjauhkan.

“Yang keliru harus diluruskan, yang lemah harus dikuatkan. Pencegahan itu berbasis edukasi dan pendampingan, bukan sekadar kecaman,” ungkapnya.

Di sisi lain, peran keluarga disebut sebagai faktor paling menentukan. Ia menilai orang tua merupakan madrasah pertama yang membentuk arah dan karakter anak. Jika fungsi ini melemah, maka anak akan mencari rujukan di luar yang belum tentu benar.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Dorong Percepatan Program Tahun Anggaran 2026

“Orang tua harus hadir, mendengar, dan memberi teladan. Rumah adalah benteng utama pendidikan moral,” ucapnya.

Tak hanya itu, sekolah pun dinilai tidak boleh hanya fokus pada prestasi akademik. Penguatan karakter, budi pekerti, dan pengawasan terhadap lingkungan pergaulan peserta didik harus menjadi bagian dari tugas pendidikan.

Menurutnya, guru bukan hanya pengajar, tapi pendidik. Sekolah dan orang tua harus berjalan seiring, tidak boleh saling melepas tanggung jawab.

Selain keluarga dan sekolah, lingkungan sosial juga berperan besar. Sikap permisif dan pembiaran di tengah masyarakat justru membuka ruang bagi berbagai penyimpangan nilai.

“Kontrol sosial harus hidup kembali. Masyarakat perlu berani menjaga nilai dengan cara yang beradab,” tuturnya.

Baca Juga :  Polda Kaltara Gagalkan Penyelundupan 55 Bal Balpres di Pelabuhan Kayan VI

Ia berharap persoalan yang muncul belakangan ini dapat menjadi momentum untuk berbenah bersama. Semua pihak baik pemerintah, orang tua, pendidik, tokoh agama, dan masyarakat bersatu menjaga akhlak generasi muda. Tarakan harus tetap menjadi kota yang religius, beradab, dan bermartabat.

Dirinya menegaskan MUI Kota Tarakan akan terus berdiri pada garis yang jelas,

tegas menjaga akidah, bijak dalam dakwah, dan konsisten membina umat.

“Menjaga moral generasi muda bukan hanya tugas agama, tetapi tanggung jawab peradaban. Jangan biarkan krisis moral menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Kasus-kasus ini harus menjadi cermin untuk berbenah, bukan sekadar sensasi sesaat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *