benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Badan Urusan Logistik (Bulog) Bulungan memastikan ketersediaan stok beras di wilayah Bulungan aman hingga akhir tahun 2026. Stok saat ini yang tersimpan di gudang mencapai sekitar 1.200 ton dan akan bertambah 1.500 ton dari Jawa Timur.
Asisten Manajer Operasional Bulog Cabang Bulungan, Dwi Novianto mengatakan total stok yang ada diperkirakan mencapai sekitar 2.700 ton.
“Sementara yang ada di gudang sekitar 1.200 ton, ditambah lagi penerimaan dari Jawa Timur sekitar 1.500 ton. Jadi kemungkinan total stok kita nanti sekitar 2.700 ton,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Dwi memastikan dengan ketersediaan stok beras yang ada, di nilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk hari menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri mendatang.
“Untuk 2026 insya Allah stok aman sampai akhir tahun. Menjelang hari raya juga stok masih cukup untuk kebutuhan masyarakat,” kata Dwi.
Untuk saat ini di gudang bulog tersedia beberapa komoditas utama, di antaranya beras medium, beras premium, serta gula. kalau untuk beras medium SPHP, kemasan yang dijual adalah ukuran 5 kilogram, sementara beras premium tersedia dalam kemasan 5 kilogram dan 10 kilogram.
Harga beras premium masih stabil, yakni Rp77.000 untuk kemasan 5 kilogram dan Rp154.000 untuk kemasan 10 kilogram. Sedangkan beras SPHP dijual dengan harga sekitar Rp60.000.
“Kalau harga sementara masih sama. Premium 5 kilo Rp77.000, 10 kilo Rp154.000. Untuk SPHP sekitar Rp60.000,” jelasnya.
Walaupun begitu, Dwi mengakui terdapat kendala pada distribusi minyak goreng. Bulog mendapat penugasan khusus untuk penyediaan minyak goreng, tetapi biaya transportasi dinilai cukup tinggi.
“Kendala kami ada di biaya distribusi minyak goreng. Harga jual kami harus di bawah HET, sementara biaya transportasi ke Bulungan cukup tinggi dan bisa melebihi HET,” ungkapnya.
Selain menjaga stok, Bulog juga terus melakukan penyerapan beras dari petani lokal. Wilayah yang menjadi target serapan antara lain Tanjung Palas Utara dan Sajau. Di Tanjung Palas Utara diperkirakan sekitar 50 ton beras dapat diserap pada tahap awal, sementara di Sajau luas lahan mencapai sekitar 300 hektare.
Menurut Dwi, keberadaan Bulog sangat membantu petani karena harga beli Bulog lebih tinggi dibandingkan tengkulak. Pembayaran juga dilakukan secara tunai langsung di lokasi.
“Petani senang kalau Bulog yang ambil karena harga kami lebih tinggi dari tengkulak. Tim kami langsung jemput ke sawah dan dibayar tunai,” tuturnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan beras di Bulungan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Stok di gudang aman sampai akhir tahun dan menjelang hari raya juga aman,” tutup Dwi. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli







