benuanta.co.id, NUNUKAN – Terlambatnya pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) di Nunukan membuat aktifitas masyarakat terhambat.
Hal ini dikeluhkan oleh sejumlah masyarakat yang mulai merasakan dampak akibat langkahnya BBM di Nunukan pada awal tahun 2026.
Haerul, salah satu warga Nunukan mengaku sudah dua hari tidak keluar rumah dikarenakan tidak mendapatkan bensin untuk kendaraanya, hingga membuat aktifitasnya tertunda untuk sementara waktu.
“Sudah dua hari di rumah karena bensin susah, adapun yang di jual di gardu-gardu pinggir jalan harganya mahal berkisar Rp 25 ribu, Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per liternya. Harganya jadi berlipat – lipat ganda dari harga normal,” ungkap Haerul pada saat dimintai keterangan Sabtu (10/1/2026).
Ia mengatakan, pada Sabtu, 10 Januari 2026 sekitar jam 23.25 WITA sempat mendapatkan bensin yang dijual di salah satu gardu. Tepatnya di daerah jalan pelabuhan dengan harga Rp 35 ribu per liternya, yang menurutnya dijual dengan harga tidak masuk akal.
“Pas lihat ada botol bensin yang dipajang di salah satu gardu di pinggir jalan saya singgah cek harga, ternyata dijual dengan harga 35 ribu per liter, saya sontak kaget dengar harga segitu,” tuturnya.
Menurut Haerul, kelangkaan bensin di Kabupaten Nunukan sangat memprihatinkan karena berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama nelayan, petani, pelaku usaha kecil, serta transportasi umum.
“Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya hidup dan menurunkan perekonomian daerah,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah nyata agar masalah ini tidak berlarut-larut. Pemerintah daerah bersama Pertamina dan instansi terkait dapat memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan merata, terutama ke wilayah perbatasan seperti Nunukan.
Selain itu, pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran BBM sangat dibutuhkan agar tidak terjadi penimbunan atau penyalahgunaan.
Haerul menambahkan, masyarakat juga berharap adanya transparansi informasi terkait penyebab kelangkaan dan solusi yang sedang dilakukan.
Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dengan pihak distributor BBM untuk menjamin ketersediaan stok secara berkelanjutan.
“Perlu juga dilakukan pengawasan rutin di SPBU dan pengecer agar distribusi tepat sasaran. Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur distribusi energi dan penambahan kuota BBM untuk wilayah perbatasan menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak terulang, tutur Haerul.
Ia juga berharap, dengan langkahnya BBM yang ada di Nunukan agar tidak dimanfaatkan oleh oknum – oknum jahat untuk mengambil keuntungan hingga membuat masyarakat merasa dirugikan dengan harga BBM yang tinggi. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Yogi Wibawa







