benuanta.co.id, TARAKAN – Harga ayam potong dan sejumlah bahan pokok di Pasar Tenguyun, Kota Tarakan, terpantau relatif stabil setelah momen Natal dan Tahun Baru. Tidak terlihat lonjakan signifikan, meski aktivitas belanja masyarakat disebut cenderung menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Tenguyun Tarakan, Arya, menyebut harga ayam masih berada pada kisaran normal seperti hari-hari biasa. Untuk ayam bersih, harga dijual Rp45 ribu per kilogram, sementara ayam biasa Rp43 ribu per kilogram.
Ia menegaskan, tidak ada perbedaan harga dibandingkan sebelum maupun saat Natal. “Sama saja. Tidak ada kenaikan. Yang naik itu cuma sayap saja,” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Harga sayap ayam saat ini berada di kisaran Rp47 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Menurutnya, harga ayam tetap stabil karena tidak ada kenaikan dari pemasok atau inti. Jika dari hulu tidak mengalami kenaikan, maka harga di tingkat pasar juga cenderung bertahan.
“Kalau dari inti ada kenaikan, baru di pasar ikut naik. Tapi sekarang ini flat saja,” katanya.
Meski harga stabil, kondisi penjualan disebut tidak terlalu ramai. Ia memperkirakan rata-rata hanya sekitar 50 ekor ayam yang bisa dijual per hari, itu pun tidak selalu habis.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang bahan pokok. Salah satu pedagang sayur dan bumbu di Pasar Tenguyun, Anti, menyebut harga cabai, bawang, dan tomat tidak mengalami kenaikan saat Natal maupun Tahun Baru.
Untuk harga saat ini, cabai dijual Rp80 ribu per kilogram, bawang merah Rp45 ribu, dan tomat Rp12 ribu. Ia mengatakan, harga tersebut sudah bertahan sejak sebelum Natal karena stok yang tersedia masih cukup banyak.
“Kalau stok banyak, harga stabil saja. Baru naik kalau stok kurang,” ungkapnya.
Sebagian besar komoditas didatangkan dari luar daerah, seperti bawang dan tomat dari Sulawesi, sementara cabai berasal dari Jawa dan sebagian lokal. Di tingkat pemasok, harga bawang dan tomat disebut berada di kisaran Rp40 ribu lebih sebelum sampai ke pasar.
Meski harga relatif tidak naik, daya beli masyarakat justru melemah. Ia menyebut pembeli cenderung berkurang karena kondisi ekonomi yang sedang sulit. “Daya belinya kurang. Uangnya juga mungkin tidak ada,” ujarnya.
Beberapa pembeli sempat mengeluhkan harga, terutama bawang merah yang di sejumlah lapak bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Namun di lapaknya, ia tetap menjual Rp45 ribu agar tetap bisa bersaing.
Secara umum, meski harga komoditas pangan di Pasar Tenguyun masih tergolong stabil pasca libur panjang akhir tahun, para pedagang mengakui penurunan transaksi menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Yogi Wibawa







