benuanta.co.id, TARAKAN – Fenomena meningkatnya kasus influenza A H3N2 subvarian K yang dikenal sebagai “superflu” mulai menjadi perhatian di daerah, seiring ditemukannya puluhan kasus di berbagai provinsi di Indonesia. Di Kalimantan Utara, otoritas kesehatan menyatakan masih menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat untuk menentukan langkah lanjutan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalimantan Utara, Yuan Erenst, menyampaikan pihaknya belum dapat memberikan keterangan teknis terkait situasi superflu di daerah.
Menurutnya, seluruh jajaran kesehatan provinsi masih menunggu petunjuk dari Kementerian Kesehatan.
“Kami masih menunggu arahan langsung dari Kemenkes terkait super flu ini, jadi sementara kami belum bisa memberikan komentar. Nanti kalau sudah ada arahan, kami akan menghubungi lagi,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa subvarian K dari influenza A H3N2 telah ditemukan di delapan provinsi hingga akhir Desember 2025. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, dengan total keseluruhan 62 kasus.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati menjelaskan, subvarian ini merupakan bagian dari sirkulasi global influenza yang sejak Agustus 2025 telah dilaporkan di 81 negara. Di Amerika Serikat, yang menjadi salah satu pusat pelaporan, tercatat 1.127 kasus dengan peningkatan mulai terlihat sejak Oktober atau minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin.
Di kawasan Asia, subvarian K juga telah dilaporkan di sejumlah negara seperti China, Korea, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meski demikian, tren kasus influenza di negara-negara tersebut justru cenderung menurun dalam dua bulan terakhir, dengan varian dominan tetap influenza A H3.
“Untuk Indonesia, hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang selesai pada 25 Desember 2025 menunjukkan subvarian K telah terdeteksi sejak Agustus melalui sistem surveilans 88 sentinel di puskesmas, klinik, dan rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium biologi keselamatan tingkat 3 (BSL-3),” ungkapnya melalui video rilis resmi dari Kemenkes.
Dari sisi karakteristik pasien, mayoritas kasus di Indonesia terjadi pada perempuan dengan proporsi 64 persen, sementara kelompok usia terbanyak berada pada rentang 1–10 tahun atau sekitar 35 persen. Dari 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, 348 sampel telah menjalani pemeriksaan genom, dengan hasil 49 persen merupakan tipe A H3 dan 36 persen di antaranya adalah subvarian K.
Widyawati menegaskan, berdasarkan penilaian WHO dan situasi epidemiologi saat ini, subvarian K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan subtipe influenza lainnya. Gejala yang muncul masih serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Di tengah kewaspadaan daerah, pemerintah mengimbau seluruh provinsi untuk tetap memperkuat upaya pencegahan. Masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, cukup istirahat, serta mengonsumsi makanan bergizi. Vaksinasi influenza tahunan juga dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.
Bagi warga yang mengalami gejala, dianjurkan untuk beristirahat di rumah, menerapkan etika batuk, menggunakan masker, serta segera ke fasilitas kesehatan bila demam tinggi menetap lebih dari tiga hari, muncul sesak napas, atau kondisi memburuk. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Ramli







