Jalur Laut Masih jadi Kendala Terbesar Pengungkapan Kasus Narkoba

benuanta.co.id, TARAKAN – Kota Tarakan masih berada di pusaran peredaran narkotika lintas wilayah. Karakter wilayah kepulauan, banyaknya jalur keluar-masuk, serta keterbatasan waktu dan personel menjadi tantangan serius aparat dalam memutus mata rantai narkoba, meski berbagai upaya pencegahan dan pemulihan terus dijalankan secara berkelanjutan.

KBO Satresnarkoba Polres Tarakan, IPTU Juani Aing, mengungkapkan peredaran narkoba di Tarakan disebut masih menggunakan pola lama yang berulang dari tahun ke tahun, dengan jalur laut hingga udara sebagai pilihan utama para pelaku. Modus ini dinilai sulit diberantas sepenuhnya karena memanfaatkan celah geografis dan aktivitas transportasi masyarakat.

“Untuk narkoba sendiri sama seperti tahun-tahun sebelumnya, modus yang dilakukan itu sama, lewat jalur laut, darat bahkan udara,” ungkapnya, Sabtu (3/1/2025).

Kawasan Selumit Pantai yang telah dicanangkan sebagai Kampung Warna-Warni Bebas Narkoba tetap menjadi perhatian aparat, meski pelaksanaan pengawasan belum bisa dilakukan secara maksimal. Keterbatasan waktu akibat padatnya agenda kepolisian membuat patroli tidak selalu berjalan intens.

“Memang kita masih aktif melakukan kegiatan di sana, rutin patroli, tapi karena sering berpapasan dengan kegiatan lain, kita tidak bisa intens,” jelasnya.

Kegiatan patroli tetap dijalankan oleh anggota operasional sebagai upaya menekan peredaran narkoba di kawasan tersebut. Aktivitas kepolisian yang berkelanjutan dinilai memberi dampak terhadap penurunan peredaran.

Baca Juga :  Mengupas KUHP dan KUHAP Baru: Aturan Berubah, Sistem Peradilan Pidana Bertransformasi

“Untuk anggota opsnal sendiri itu masih terus melakukan patroli di daerah Selumit dan kegiatan yang kita lakukan di sana bisa menekan angka peredaran narkoba,” katanya.

Penurunan juga tercatat pada laporan pengaduan masyarakat di wilayah Selumit dan Juwata Korpri, meskipun kedua kawasan itu masih tergolong rawan tindak pidana. Aparat memastikan patroli tetap dilakukan setiap hari.

“Untuk pelaporan di Selumit dan Juwata Korpri itu menurun, walaupun kita tahu daerah itu sering dijadikan lokasi tindak pidana, tapi setiap hari anggota tetap patroli,” terangnya.

Pengungkapan kasus penyelundupan, jalur bandara dan laut masih menjadi fokus utama. Pelaku kerap menyamar sebagai penumpang umum untuk mengelabui petugas, namun pola tersebut dinilai sudah dapat diantisipasi aparat.

“Modusnya lewat jalur penumpang untuk mengelabui petugas, tapi kita tidak terkelabui karena itu sudah sering kita deteksi,” tegasnya.

Peran Tarakan sebagai wilayah transit narkoba disebut mulai berkurang, namun pengungkapan masih banyak terjadi di wilayah laut, khususnya di area tambak yang dijadikan tempat penyimpanan barang haram.

“Kalau jalur transit sekarang sudah berkurang, tapi untuk pelabuhan kita kebanyakan dapatnya di laut. Paling sering sih di daerah tambak, barang itu disimpan dengan cara ditanam,” ujarnya.

Baca Juga :  Immanuel Ebenezer: Ada Partai dan Ormas Terlibat Kasus Pemerasan K3

Sebagai wilayah kepulauan, jalur laut menjadi tantangan paling sulit dalam pengungkapan kasus narkoba. Pelaku memanfaatkan berbagai rute, baik langsung menuju Kalimantan Timur maupun Sulawesi Selatan. “Yang paling sulit diungkap itu jalur laut, mereka bisa langsung ke Kaltim atau ke Sulsel menggunakan transportasi laut,” paparnya.

Selain itu, Tarakan disebut berperan sebagai titik transit narkoba lintas negara dan wilayah sebelum didistribusikan kembali ke daerah lain. “Tarakan jadi tempat transit narkoba dari Tawau, Malaysia, Sebatik, dan Nunukan, lalu dikirim ke Kaltim dan Sulsel lewat jalur laut dan udara,” tukasnya.

Sementara itu, Kapolres Tarakan AKBP Erwin S. Manik, S.H., S.I.K., M. H, mengungkapkan upaya pemulihan di Selumit Pantai dilakukan melalui program Kampung Bersinar dengan fokus perubahan sosial dan keamanan lingkungan. Program ini dijalankan secara intensif selama enam bulan.

“Kami berada di sana sekitar enam bulan untuk merubah keadaan, khususnya terkait keamanan dan ketertiban dari peredaran narkotika,” katanya.

Dalam program tersebut, aparat membangun pos keamanan lingkungan di titik strategis untuk meningkatkan pengawasan berbasis masyarakat.

Baca Juga :  Oknum ASN di Bulungan Ditetapkan Sebagai Tersangka Dugaan Penipuan Pembelian Solar Sebesar Rp 1 Miliar

“Kami membangun pos kamling agar bisa digunakan warga dan menjadi pantauan kami dari pihak kepolisian,” tuturnya.

Pasca-program, tantangan berikutnya adalah keberlanjutan dari pemerintah kota, terutama melalui penguatan ekonomi masyarakat yang rentan terlibat narkotika.

“Ada program UMKM untuk kelompok minoritas yang patut diduga terlibat narkotika, mereka dilatih agar mandiri dan tidak kembali ke kegiatan negatif,” ujarnya.

Perhatian juga diberikan kepada anak-anak putus sekolah yang dinilai rentan terhadap pengaruh narkoba di empat RT Selumit Pantai. “Kami usulkan agar anak-anak putus sekolah ini masuk program sekolah rakyat supaya masa depan mereka terselamatkan dan terhindar dari narkotika,” imbuhnya.

Empat pos kamling yang dibangun turut dilengkapi CCTV sebagai alat pendukung pengawasan dan pembuktian hukum.
“Pos kamling itu dilengkapi CCTV yang bisa menjadi bukti forensik jika merekam pelaku dan barang terlarang,” tegasnya.

Meski program berjalan, waktu enam bulan dinilai masih sangat singkat untuk mengubah kawasan yang telah lama dikenal sebagai lokasi peredaran narkotika.

“Sejak 2010 kawasan ini sudah dikenal ada peredaran narkotika, dan di 2025 kita kerahkan penuh untuk mengubah paradigma melalui program-program tersebut,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *