Bukan Daerah Ring Api, Kalimantan Tak Luput dari Aktivitas Gempa

benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas gempa bumi di Kalimantan Utara (Kaltara) selama ini memang jarang terasa oleh masyarakat. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memastikan wilayah ini tetap berada dalam zona yang memiliki potensi kegempaan, meski berada pada tingkat paling rendah dibanding daerah lain di Indonesia.

Sejumlah gempa kecil tercatat terjadi hampir setiap tahun di wilayah Kalimantan, meski mayoritas tidak dirasakan warga. Karena intensitasnya rendah, kejadian tersebut kerap luput dari perhatian publik, namun tetap menjadi catatan penting dalam pemantauan BMKG.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa gempa-gempa kecil itu biasanya berada pada kisaran magnitudo 2 hingga 3. Getaran sekecil itu umumnya tidak terasa di permukaan, tetapi tetap terdeteksi oleh alat pemantau seismik.

Baca Juga :  Tekanan Fiskal, Kaltara Ubah Strategi Pembangunan

“Hampir setiap tahun itu ada gempa, walaupun kecil dan tidak terasa. Seperti kemarin magnitudonya sekitar 2,3 atau 2,4, memang tidak dirasakan, tapi tetap tercatat oleh kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, besar kecilnya kekuatan gempa sangat dipengaruhi oleh energi yang dilepaskan dari pergerakan lempeng tektonik. Energi itu tersimpan dalam waktu lama, lalu dilepaskan ketika lempeng bergerak atau bertumbukan.

Menurutnya, seluruh wilayah Indonesia berada di atas lempeng-lempeng yang terus bergerak. Pergerakan itu tidak pernah berhenti karena masing-masing lempeng selalu mencari keseimbangan baru.

“Kita ini hidup di atas lempeng-lempeng yang semuanya bergerak. Tidak ada yang diam. Dalam proses mencari kedudukan yang sempurna itulah terjadi lepasan energi yang kita kenal sebagai gempa bumi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perselingkuhan dan Judol Masih jadi Biang Kerok Perceraian Masyarakat Kaltara

Dirinya menegaskan, tidak ada wilayah di Indonesia yang benar-benar bebas dari ancaman gempa. Hanya saja, tingkat risikonya berbeda-beda antarwilayah, tergantung pada posisi dan aktivitas lempeng yang ada di bawahnya.

Ia menggambarkan Indonesia berada dalam beberapa “ring” atau zona kegempaan. Wilayah dengan aktivitas tertinggi berada di jalur Cincin Api, meliputi Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

“Itu kasta tertinggi, paling sering terjadi gempa. Di bawahnya Papua, Ambon, dan Sulawesi. Kalimantan berada di ring paling bawah, potensi tetap ada tapi paling jarang terjadi,” jelasnya.

Baca Juga :  Koperasi Kaltara: Partisipasi Perempuan Terpusat di Beberapa Daerah

Selain lempeng besar seperti Eurasia, masih terdapat lempeng-lempeng kecil yang belum sepenuhnya terpetakan dan juga berperan dalam aktivitas kegempaan di wilayah Kalimantan.

BMKG mengingatkan, meski Kalimantan tergolong paling jarang mengalami gempa, kewaspadaan tetap diperlukan. Pencatatan dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan setiap aktivitas seismik dapat diketahui lebih dini sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

“Nah gitu ya, jadi tidak pernah di pulau manapun yang betul-betul aman dari potensi gempa. Semuanya ada potensi, ada lempeng yang besar, ada juga lempeng-lempeng kecil yang belum diberi nama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *