benuanta.co.id, BULUNGAN — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada November 2025 tercatat sebesar 116,84, atau mengalami penurunan 0,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski turun tipis, angka tersebut masih menunjukkan daya beli petani berada di atas titik impas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara Mas’ud Rifa’i, menjelaskan NTP merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi rumah tangga petani.
“NTP di atas 100 menunjukkan petani masih memiliki surplus, namun penurunan ini perlu dicermati karena mencerminkan tekanan pada sisi penerimaan,” ujar Mas’ud, Kamis (25/12/2025)
Menurut BPS, penurunan NTP November 2025 dipicu oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,08 persen, yang lebih dalam dibanding penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,04 persen.
Mas’ud mengatakan kondisi tersebut menandakan harga hasil pertanian yang diterima petani melemah lebih cepat dibanding penurunan biaya yang harus dikeluarkan petani.
Secara subsektoral, NTP Kaltara masih menunjukkan variasi yang cukup lebar. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 103,32, Hortikultura (NTPH) sebesar 100,19, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) mencapai 203,90, Peternakan (NTPT) sebesar 101,56, serta Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) sebesar 101,18.
“Subsektor perkebunan rakyat masih menjadi penopang utama NTP Kalimantan Utara,” kata Mas’ud.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada November 2025 tercatat 121,80, turun 0,06 persen dibandingkan Oktober 2025. Penurunan NTUP mencerminkan melemahnya keuntungan usaha pertanian secara umum.
BPS juga mencatat terjadi penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,05 persen pada November 2025. Penurunan terdalam terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,09 persen.
Menurut Mas’ud, pergerakan indeks konsumsi tersebut ikut memengaruhi dinamika kesejahteraan rumah tangga petani di perdesaan Kalimantan Utara. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Yogi Wibawa







