Pemprov Kaltara Tekankan Kesiapsiagaan Bencana lewat Simulasi Vertical Rescue

‎benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana, khususnya gempa bumi dan kebakaran gedung di wilayah padat penduduk. Hal ini ditegaskan dalam kegiatan simulasi vertical rescue yang digelar sebagai bagian dari penguatan kapasitas penanggulangan bencana.

Kegiatan tersebut dinilai strategis karena Kaltara merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Berdasarkan kajian risiko bencana 2022–2026, daerah ini berada pada kelas bahaya dan kerentanan tinggi, sementara kapasitas daerah masih berada pada kategori sedang, sehingga membutuhkan peningkatan berkelanjutan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setprov Kaltara, Datu Iqro Ramadhan, menyampaikan, simulasi ini tidak boleh dipahami sebatas kegiatan seremonial, melainkan harus menjadi pengetahuan praktis yang dapat diterapkan saat kondisi darurat terjadi.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Tekankan Pokir DPRD harus Selaras RKPD dan Bebas Risiko Hukum

‎“Kegiatan ini harus menjadi pedoman bagi seluruh unsur Forkopimda dan rumah sakit agar siap dan cepat tanggap jika terjadi bencana. Jangan hanya dijadikan seperti seminar biasa, tetapi betul-betul diaplikasikan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sepanjang 2024 tercatat 267 kejadian bencana di Kaltara, yang didominasi banjir, tanah longsor, kebakaran bangunan, serta kebakaran hutan dan lahan. Sementara hingga minggu pertama Desember 2025, telah terjadi 185 kejadian bencana, termasuk banjir, longsor, gempa bumi, cuaca ekstrem, dan kebakaran.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Kebut Program Sekolah Rakyat

‎Menurutnya, dua jenis bencana yang memerlukan perhatian khusus adalah gempa bumi dan kebakaran gedung. Kedua bencana ini memiliki karakter cepat, sulit diprediksi, dan berisiko tinggi menimbulkan korban jiwa dalam waktu singkat, terutama di kawasan perkotaan dengan bangunan bertingkat.

‎Secara historis, Provinsi Kaltara khususnya Kota Tarakan pernah mengalami sejumlah gempa bumi yang menyebabkan kerusakan signifikan. Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa potensi gempa di wilayah ini nyata dan membutuhkan kesiapan teknis, terutama kemampuan penyelamatan vertikal pada bangunan bertingkat.

Selain gempa, kebakaran gedung juga dinilai sebagai ancaman serius. Kepadatan bangunan, keterbatasan akses evakuasi, serta risiko runtuhnya struktur menjadikan kebakaran memerlukan keterampilan penyelamatan tingkat lanjut, termasuk penguasaan teknik vertical rescue.

Baca Juga :  Produksi Beras Lokal Masih Rendah, DPKP Kaltara Kebut Target Swasembada 2027

‎Melalui simulasi ini, diharapkan koordinasi antarinstansi semakin solid, prosedur tetap semakin teruji, serta kecepatan dan ketepatan personel dalam melakukan evakuasi di medan sulit dapat ditingkatkan. Hal ini dinilai sangat menentukan keberhasilan penyelamatan nyawa pada masa-masa kritis.

‎Pemprov Kaltara juga menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, TNI/Polri, dunia usaha, akademisi, relawan, hingga masyarakat dan media. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *