Cerita UMKM di Tarakan dan Nunukan Soal KUR, Angkat UMKM Naik Kelas

benuanta.co.id, TARAKAN – Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu tumpuan utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas usaha dan meningkatkan daya saing. Dengan bantuan dana kepada pelaku usaha, KUR terbukti membantu pelaku usaha keluar dari keterbatasan modal, menjaga keberlangsungan usaha di tengah tantangan ekonomi, serta memperkuat roda perekonomian di daerah.

Salah satu pelaku UMKM yang membuka toko kelontong, Rosidin, mengungkapkan KUR bukan sekadar bantuan modal, melainkan jalan pembuka menuju kemandirian usaha. Banyak pelaku mikro yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pinjaman karena tidak memiliki agunan kini bisa bernafas lega. Dengan dukungan penjaminan, mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk mengembangkan usaha.

“Kami dulu hanya bisa memutar modal seadanya tapi setelah dapat KUR, omzet meningkat,” ungkapnya, Ahad (9/11/2025).

Rosidin yang mendapatkan pinjaman KUR sebesar Rp20 juta, usahanya mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Ia menambahkan, untuk mendapatkan pinjaman tersebut, dirinya harus memenuhi sejumlah persyaratan seperti melampirkan identitas diri, surat izin usaha, dan catatan transaksi harian. Menurutnya, prosesnya cukup mudah selama usaha benar-benar berjalan. Namun, Rosidin mengakui ada satu syarat yang sedikit menyulitkan, yakni keharusan melengkapi dokumen legalitas usaha secara resmi.

“Kalau tidak salah kemarin saya dapat Rp20 juta dan cairnya juga sekitar semingguan. Untuk persyaratan utamanya tidak terlalu rumit, cuma yang agak sulit itu waktu disuruh buat surat izin usaha, karena dulu belum punya. Akhirnya saya urus dulu baru bisa cair,” paparnya.

Baca Juga :  Musrenbang Kewilayahan di Tulin Onsoi, Wabup Hermanus Tekankan Usulan Murni Kebutuhan Masyarakat

Dari sisi produktivitas, banyak pelaku UMKM mengaku KUR memberi napas baru bagi usaha mereka. Pelaku UMKM yang membuka kedai makanan, Asniar, menjelaskan dengan bantuan KUR mereka mampu menambah alat, membeli bahan baku, hingga memperluas pasar.

“Kalau dulu alat-alat dan bahan masak terbatas, tapi karena sudah ada jadi pelanggan datang juga makin banyak,” katanya.

Selain itu, KUR juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Banyak pelaku usaha kecil yang mampu merekrut tambahan karyawan setelah mendapatkan pembiayaan. “Dulu saya kerja sendiri, sekarang sudah ada dua orang yang bantu,” tuturnya.

Meski begitu, para pelaku UMKM juga menyadari pentingnya tanggung jawab dalam mengelola pinjaman agar tidak terjebak utang. Pelaku UMKM berharap ada pendampingan rutin agar mereka tidak bergantung pada pinjaman. “Kami ingin terus berkembang, bukan terus berutang,” terangnya.

Kedepan, ia berharap program KUR tidak hanya fokus pada penyaluran dana, tetapi juga pendampingan berkelanjutan, pelatihan manajemen, dan pengembangan inovasi produk. Bagi mereka, modal bukan satu-satunya kebutuhan; kemampuan mengelola usaha secara profesional juga menjadi faktor penting agar bisnis dapat berkelanjutan.

Baca Juga :  Perkuat Penegakan Perda, Satpol PP Nunukan Gelar Rakor Gambaran Umum Pelaksanaan Tugas

“Kalau bisa pendampingannya lebih sering, biar kami tahu cara kembangkan usaha dengan benar,” tandasnya.

Di Nunukan, Berkat Kredit Usaha Rakyat (KUR), Suriani (36) salah satu pelaku UMKM di Pasar Inhutani Nunukan dapat terus mengembangkan usahanya hingga kini bisa membuka cabang konter handphone dan toko sembako.

Suriani mengatakan, saat terjadi kebakaran tahun 2016 lalu, bangunan dan barang usaha yang dibangunnya hangus terbakar. Ia kemudian memberanikan diri untuk meminjam dana dengan mengakses KUR di bank BRI.

“Awalnya itu saya pinjam Rp 25 juta, anggunan yang saya masukkan ke bank hanya STNK motor. Alhamdulillah waktu itu tidak dipersulit oleh pihak bank, semuanya berjalan lancar,” kata Suriani.

Untuk mendapatkan KUR ini, berbagai persyaratan administrasi harus ia penuhi dulu sebelum mengajukan pinjaman diantaranya foto KTP, Foto Nikah, NPWP dan Surat Izin Usaha.

Dengan modal usaha tersebut ia kembali merintis kembali usahanya. Setelah KUR Rp 25 juta tersebut lunas, ia sempat melanjutkan pinjam lagi sebanyak dua kali di bank yang sama dengan jumlah pinjaman masing-masing Rp 50 juta.

“Uang hasil pinjam itu saya putar terus untuk kembangan usaha saya, terakhir tahun lalu saya ajukan pinjaman lagi Rp 100 juta. Itu tidak pake anggunan sama sekali. Karena selama 3 kali saya pinjam KUR alhamdulillah lancar terus pembayaran tidak pernah macet, jadi pihak bank berani kasih saya nilai segitu tanpa anggunan sama sekali,” ungkapnya.

Baca Juga :  DPRD Nunukan Minta Kasus Diskriminasi Guru Diusut Tuntas

Dikatakannya, uang tersebut ia gunakan untuk modal membuka cabang konter Handphone dan membuka kios sembako di pasar Inhutani.

Bahkan, untuk pinjaman KUR Rp 100 juta ini, ia mengaku mengambil waktu pembayaran selama dua tahun dengan angsuran bulanan sebanyak Rp 4 jutaan setiap bulannya.

Suriani mengatakan, sebagai pelaku usaha, ia merasa sangat terbantu dengan adanya program KUR ini. Kendati demikian, ia juga berharap ada kebijakan atau program baik dari pemerintah pusat maupun daerah terkait bantuan KUR dengan bunga 0 persen.

Menurutnya, dengan adanya program 0 persen ini kiranya dapat memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha menengah ke bawah yang ingin mengembangkan usahanya dapat memanfaatkan program tersebut.

“Harapan kita sebagai pelaku usaha akan sangat membantu sekali kalau ada program-program seperti itu dari pemerintah. Karena selama ini banyak teman-teman pelaku usaha yang belum berani mengambil KUR karena bunga. Kalau tidak ada bunga kan ini sangat membantu sekali,” harapnya. (*)

Reporter: Eko Saputra/Soni Irnada

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *